Investigasi Dugaan Bunuh Diri di Jembatan Cangar Terganjal Sinyal dan CCTV

CITY GUIDE, KOTA BATU – Penyelidikan kasus diduga bunuh diri di Jembatan Cangar, Kecamatan Bumiaji menghadapi tantangan serius. Minimnya infrastruktur keamanan dan komunikasi di kawasan tersebut menjadi hambatan utama bagi kepolisian dalam mengungkap kronologi kejadian secara menyeluruh.
Kondisi ini diakui langsung oleh jajaran Polres Batu saat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pada Kamis (23/4/2026). Meski lokasi tersebut kerap menjadi titik penemuan mayat, fasilitas pendukung seperti kamera pengawas dan jaringan telekomunikasi masih sangat terbatas.
“Untuk CCTV tidak ada. Bahkan jaringan seluler di sana juga tidak tersedia sama sekali,” ujar Kasatreskrim Polres Batu AKP Joko Suprianto saat menjelaskan perkembangan penyelidikan.
Ia menambahkan wilayah yang berada di jalur penghubung kawasan Gunung Welirang dan Arjuno tersebut memang memiliki akses jaringan yang sulit. Kondisi ini tidak hanya menghambat pengumpulan data, tetapi juga menyulitkan koordinasi antarpetugas di lapangan.
Baca juga:
Lagi, Seorang Pemuda Terjun dari Jembatan Cangar
“Di sana memang tidak ada jaringan telekomunikasi. Kalau pernah ke sana, pasti tahu bagaimana kondisi sinyalnya,” jelasnya.
Berdasarkan hasil observasi reporter, sinyal komunikasi baru tertangkap ponsel saat memasuki kawasan permukiman Desa Sumberbrantas di Kota Batu maupun wilayah Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Sementara itu, sepanjang jalur yang melintasi kawasan Perhutani dengan jarak sekitar 12 kilometer praktis berada dalam kondisi minim sinyal. Dari sisi kewenangan, Perhutani melalui akun resminya juga menyebut bahwa penyediaan sarana dan prasarana di kawasan tersebut berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi.
Sungguh miris dalam kurun waktu satu bulan terakhir, sudah ada dua kasus bunuh diri di Jembatan Cangar. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran sekaligus sorotan terhadap minimnya sistem pengawasan di lokasi tersebut.
Keberadaan fasilitas seperti CCTV dan jaringan komunikasi yang memadai dapat menjadi langkah preventif. Sekaligus mempermudah proses penanganan dan pengungkapan kasus serupa di masa mendatang.
Editor: Intan Refa




