Desa Bumiaji, Jejak Tanah Perdikan Kuno dan Pelopor Desa Wisata

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Desa Bumiaji berada di kaki Gunung Arjuno-Welirang dengan luas sekitar 4,78 kilometer persegi. Bumiaji bukan hanya dikenal sebagai kawasan pertanian, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang yang dipercaya telah ada sejak era pra-Islam.
Menurut legenda yang berkembang di masyarakat, asal-usul nama Bumiaji berkaitan dengan keberadaan makam Mbah Batu, seorang leluhur yang dahulu dikenal dengan sebutan Mbah Tuwo atau Mbah Tua. Alkisah, Mbah Tuwo ini tinggal di sebuah gubuk sederhana di lereng gunung.
Ia adalah orang yang melakukan babat alas untuk membuka desa. Tempat ini yang kemudian menjadi persinggahan sekaligus perlindungan bagi Pangeran Rojoyo saat menghindari kejaran tentara Belanda.
Secara etimologis, kata “Bumi” berarti tanah, sedangkan “Aji” berarti berharga atau bernilai. Nama tersebut mencerminkan makna filosofis sebagai tanah yang memiliki nilai penting dan dihargai oleh masyarakatnya.
Jejak sejarah Bumiaji sebagai permukiman kuno turut diperkuat oleh penelitian sejarawan Dwi Cahyono. Berdasarkan kajian manuskrip dan artefak sejarah, Bumiaji disebut sebagai tanah perdikan yakni wilayah yang mendapatkan hak istimewa bebas pajak pada masa lampau.
Kawasan ini diperkirakan telah memiliki tatanan kehidupan yang maju sejak masa pra-Islam dan kemungkinan besar menganut sistem kepercayaan Kapitayan. Ini merupakan kepercayaan monoteisme Jawa kuno yang memuja Sang Hyang Taya, Tuhan yang bersifat abstrak, hampa dan tak terbayangkan.
Mata pencaharian

Sebagai salah satu desa tua di Kota Batu dengan mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani yang tersebar di empat dusun, Bumiaji dikenal sebagai pelopor agrowisata di Kota Batu. Sebelum sektor pariwisata berkembang pesat seperti saat ini, perekonomian masyarakat banyak ditopang oleh komoditas apel yang menjadi ikon daerah.
Namun kondisi tersebut mulai berubah pasca krisis moneter 1998. Harga apel tak bisa mengembalikan momentumnya pasca krisis. Bahkan mencapai titik yang cukup berat pada tahun 2004-2005. Tingginya biaya operasional serta harga jual yang tidak sebanding membuat keuntungan petani semakin menipis.
Sekretaris Desa Bumiaji Wiwid Suatmoko menjelaskan bahwa situasi tersebut justru mendorong munculnya inovasi baru di tengah masyarakat.
“Awal mulanya memang dari produktivitas apel yang dulu menjadi ikon Desa Bumiaji dan Kota Batu. Sekitar tahun 2004 sampai 2005 produktivitas mulai turun akibat dampak krisis moneter 1998. Biaya operasional tinggi sementara harga jual tidak bisa naik. Akhirnya beberapa tokoh masyarakat memiliki ide bagaimana memangkas rantai distribusi agar apel bisa langsung sampai ke konsumen,” jelas Wiwid.
Maka lahirlah Wisata Petik Apel. Wisatawan tidak hanya membeli buah, tetapi juga dapat memetik langsung dari pohonnya. Sementara itu, apel dengan kualitas di bawah standar pasar menjadi bahan baku produk olahan rumahan agar tetap memiliki nilai ekonomi.
Konsep tersebut berkembang pada masa kepemimpinan Wali Kota Batu Imam Kabul. Saat itu Desa Bumiaji menjadi pelopor yang menggabungkan sektor pertanian, industri rumahan, dan pengalaman wisata berbasis masyarakat. Sebelum akhirnya semakin berkembang di era Wali Kota Edi Rumpoko.
Bahkan wisatawan juga bisa menginap di rumah warga, mengikuti aktivitas petani di kebun, hingga mengunjungi sentra UMKM olahan apel. Konsep inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi berkembangnya desa wisata di Kota Batu.
Seiring perubahan lingkungan di sektor pertanian, masyarakat Bumiaji mulai melakukan perubahan komoditas. Petani kini mengembangkan budidaya jeruk, jambu, hingga tanaman bunga potong. Meski demikian, konsep wisata edukasi berbasis pertanian tetap dipertahankan.
Saat ini, daya tarik wisata Bumiaji juga didukung panorama alam di kawasan Bukit Puthuk Gede dan Bukit Jengkoang. Nama Jengkoang sendiri berasal dari seorang pemilik lahan keturunan Tionghoa bernama Jengkoang.
Perjalanan menuju Desa Bumiaji menawarkan pengalaman yang berbeda. Jalan bebatuan yang membelah area perkebunan sengaja dipertahankan sebagai bagian dari karakter pedesaan. Meski berupa jalan berbatu, tapi susunannya tetap rapi supaya aksesnya tetap dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Di sepanjang jalan Dusun Segundu, wisatawan dapat menemukan berbagai destinasi. Mulai dari area berkemah, kafe, sejumlah fasilitas umum dan tentunya perkebunan warga. Beberapa unit penginapan bergaya glamping juga mulai dibangun untuk menunjang kebutuhan wisatawan.
Untuk mendukung wisata yang terintegrasi, pemerintah desa berencana menghadirkan program yang menggabungkan wisata keliling desa, kunjungan ke sentra UMKM hingga aktivitas petik buah di kebun warga.
Seni budaya
Desa Bumiaji juga memiliki kekayaan budaya yang masih terjaga. Bahkan di sini menjadi salah satu pusat kegiatan Bantengan Nusantara yang secara rutin menggelar pertunjukan dan festival berskala internasional.
Tradisi spiritual masyarakat juga tetap lestari melalui peringatan malam Satu Suro yang bertepatan dengan Selamatan Desa. Berdasarkan penuturan para sesepuh, hari tersebut dipercaya sebagai hari lahir Desa Bumiaji.
Prosesi dilaksanakan dengan mengelilingi desa sambil memanjatkan doa-doa keselamatan dan berziarah ke makam Mbah Batu. Selama ritual berlangsung, peserta diwajibkan menjaga keheningan dan tidak berbicara di luar lantunan doa.
Perpaduan antara sejarah, kekayaan budaya, serta konsistensi ekowisata menjadikan Desa Bumiaji sebagai salah satu wilayah yang berhasil menjaga identitasnya. Dari tanah perdikan kuno hingga pelopor wisata petik apel, Bumiaji terus membuktikan dirinya sebagai salah satu wajah penting Kota Batu. (adv)
Editor: Intan Refa



