Jalan Jalan Plus

Saat Kampung Kuning Berubah Jadi Desa Wisata Oro-oro Ombo

Wisata De Beran yang dikelola Pemerintah Desa Oro-oro Ombo. (Foto: Asrur Rodzi)
Wisata De Beran yang dikelola Pemerintah Desa Oro-oro Ombo. (Foto: Asrur Rodzi)

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Batu menjadi salah satu penyangga utama sektor pariwisata di wilayah selatan Sungai Brantas. Berada di bawah lereng Gunung Panderman, desa ini memiliki udara sejuk dan panorama alam yang menjadi daya tarik tersendiri.

Akses menuju desa ini juga sangat mudah. Dari pusat Kota Batu, perjalanan ke Oro-oro Ombo hanya memakan waktu sekitar 10-15 menit. Lokasinya berada di jalur utama wisata, tepatnya di Jalan Raya Oro-oro Ombo, dengan kondisi jalan yang mulus dan lebar sehingga dapat dilalui berbagai jenis kendaraan. Termasuk bus pariwisata.

Sejarah

Secara historis, nama “Oro-oro Ombo” berasal dari bahasa Jawa yang berarti hamparan tanah lapang yang luas. Sedangkan berdasarkan cerita tutur, wilayah ini dulunya menjadi tempat persinggahan rombongan besar Kerajaan Mataram Islam dalam perjalanan menuju kawasan Songgoriti.

Pemerintahan desa tercatat mulai berjalan sejak tahun 1830, dengan Mbah Singo Leksono sebagai bekel pertama (jabatan pemungut pajak) pada masa kolonial Belanda. Hingga kini, warga masih merawat punden-punden para tokoh bedah kerawang (membuka lahan) yang dianggap berjasa membentuk desa.

Antara lain punden Mbah Singo Sentono dan Mbah Ayu Putri di Dusun Krajan, Mbah Musyafiq di Gondorejo, serta Mbah Selamet di Dresel. Termasuk kisah Mbah Brojodento juga masih hidup dalam ingatan warga sebagai sosok yang berjasa mengalirkan air dari mata air pegunungan ke lahan pertanian warga.

Pada masa Orde Baru sekitar tahun 1970-an, desa ini sempat mendapat stigma sebagai “Desa Kuning” yakni wilayah yang identik dengan kemiskinan dan ketertinggalan. Saat itu, keadaan di sana masih gersang dan sulit air, sehingga kurang diminati sebagai tempat tinggal maupun tempat tujuan.

Mulai berbenah

Perubahan besar mulai terjadi ketika (alm) Wali Kota Batu Edi Rumpoko mendorong arah pembangunan menjadi Kota Wisata Batu. Kebijakan itu mendorong Pemerintah Desa Oro-oro Ombo ikut menyesuaikan arah pembangunan.

Pada tahun 2008, pemerintah desa menjalin kerja sama dengan Jatim Park Group untuk memanfaatkan tanah kas desa seluas 47,9 hektar sebagai lokasi pembangunan Batu Night Spectacular (BNS). Lokasi ini menjadi wisata malam pertama di Kota Batu.

“Kami juga ingin Desa Oro-oro Ombo paling tidak menjadi desa yang setara dengan desa-desa utara Brantas pada saat itu. Akhirnya kami pada tahun 2008 melakukan kerja sama dengan pihak ketiga,” ujar Kepala Desa Oro-oro Ombo Wiweko.

Ternyata, keberadaan BNS memberi dampak besar bagi perekonomian warga. Banyak rumah penduduk berkembang menjadi homestay. Warung makan ikut tumbuh di sepanjang jalan.

Bahkan anak-anak muda ikut terlibat dalam promosi digital untuk mendukung sektor wisata lokal. Dari sinilah status Oro-oro Ombo sebagai desa wisata semakin kuat.

Wiweko menyebut pemerintah desa tetap memberi perlindungan bagi warga setempat dalam setiap kerja sama investasi.

“Jadi di situ ada PKS. Jadi PKS selain mengatur nominal di kerja sama itu, kami juga memasukkan untuk pekerja atau karyawan itu 60 persen harus warga masyarakat Oro-oro ombo,” jelasnya.

Tujuan utamanya adalah membuka lapangan kerja sekaligus memastikan masyarakat setempat ikut merasakan manfaat dari investasi yang masuk.

Selain sektor wisata, desa ini juga memiliki kekuatan di bidang pertanian dan peternakan. Oro-oro Ombo mempunyai tiga dusun yakni Krajan, Gondorejo dan Dresel. Di Dusun Dresel, mayoritas warga berprofesi sebagai peternak sapi perah.

Produksi susu segar dari wilayah ini mencapai 5.000 hingga 6.000 liter per hari. Kemudian memasoknya ke KUD Batu serta sejumlah mitra industri pengolahan susu.

BUMDes Oro-oro Ombo juga aktif di berbagai unit usaha seperti rest area di Jalibar, warung desa dan penyediaan ATK. Rencananya, Wiweko bakal menyiapkan pengembangan wisata baru di Dusun Gondorejo, tepatnya di kawasan De Beran dengan membangun pemandian dan kolam renang komunal.

Wisata baru ini menggunakan anggaran desa agar keuntungan usaha dapat langsung masuk ke Pendapatan Asli Desa.

Sementara generasi mudanya juga ikut menjaga warisan budaya. Contohnya, kesenian Bantengan dan Kuda Lumping yang masih banyak penggemarnya dan rutin tampil dalam agenda Selamatan Desa. Pemerintah desa juga menetapkan siklus dua tahunan untuk penyelenggaraan karnaval budaya besar. (adv)

Editor: Intan Refa

Asrur Rodzi

Jurnalis City Guide FM yang berfokus pada liputan berita seputar Kota Batu, mencakup isu pemerintahan, pariwisata, peristiwa, dan perkembangan terkini di wilayah Kota Batu dan sekitarnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Visual Radio

x