Pesona Lumbung Bumi dan Jejak Sejarah Desa Pendem

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Pintu gerbang utama Kota Batu dari arah timur ini memiliki karakter yang berbeda dari sebagian besar desa lain. Jika wilayah lain identik dengan perkebunan apel, tanaman hortikultura, dan bunga, Desa Pendem dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi yang menopang ketahanan pangan daerah.
Hamparan sawah membentang di empat dusun yakni Dusun Pendem, Caru, Mojorejo, dan Sekarputih. Produksi padi yang mencapai seribu ton per tahun menjadikan Desa Pendem sebagai lumbung padinya Kota Batu.
Kondisi geografis ini membuat pemerintah desa berencana mengembangkan kawasan agrowisata “Lumbung Bumi Pendem”. Kepala Desa Pendem Tri Wahyuwono Efendi menjelaskan bahwa gagasan ini muncul ketika pemerintah daerah mendorong setiap desa untuk menggali dan mengembangkan potensi lokal.
“Di area kami memang ada kawasan pertanian dengan hamparan yang luas dan pemandangan gunung. Inilah yang menjadi konsep kami untuk mengembangkan wisata berbasis potensi desa,” katanya.
Meski demikian, Tri menyebut bahwa pengembangan wisata ini masih berada pada tahap awal. Pemerintah desa telah menyusun master plan pada tahun 2025 sebagai pedoman pembangunan jangka pendek, menengah, dan panjang.
“Kami masih tahap embrio. Tapi rencana itu sudah kami tuangkan dalam master plan sebagai pijakan pengembangan ke depan. Siapa pun nanti pemimpinnya bisa melanjutkan karena sudah ada acuannya,” jelasnya.
Nama “Lumbung Bumi Pendem” dipilih karena merepresentasikan identitas Desa Pendem sebagai penghasil pangan. Dalam kawasan ini nantinya wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan sawah berlatar pegunungan. Tetapi juga dapat belajar seputar pertanian yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat.
“Kalau lumbung bumi itu kan tempat sumber pangan. Desa Pendem identik dengan tanaman padi, maka konsep wisata yang kami bangun juga berangkat dari situ,” ujar Tri.
Kawasan wisata ini rencananya berada di Dusun Pendem dengan memanfaatkan lahan desa. Tidak hanya itu, sepanjang akses menuju kawasan tersebut, wisatawan akan disambut deretan pohon tabebuya yang akan mekar setiap bulan Oktober.

Keindahan bunga berwarna kuning cerah inilah yang kemudian melahirkan Festival Tabebuya di saat bunga bermekaran. Bertepatan dengan masa peralihan musim kemarau menuju musim penghujan ketika bunga-bunga tabebuya mulai bermekaran.
Ketika cuaca mendukung, deretan pohon di sepanjang jalan desa akan berubah menjadi lorong berwarna kuning.
Temuan situs sejarah
Selain pertanian dan wisata alam, Desa Pendem juga menyimpan kekayaan sejarah yang tidak banyak masyarakat tahu. Pada tahun 2020, warga menemukan struktur bangunan kuno yang kemudian diteliti oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Temuan tersebut bernama Situs Candi Manunjung.

“Awalnya warga sedang menggali lahan untuk menanam alpukat. Saat digali ditemukan susunan batu bata dan batu kuno. Setelah dilaporkan dan dikaji oleh BPCB, ternyata memang merupakan situs bersejarah,” ungkap Tri.
Berdasarkan hasil kajian, perkiraan situs tersebut berasal dari abad ke-10 atau masa Kerajaan Mataram Kuno. Temuan itu menjadi petunjuk bahwa wilayah tersebut pernah menjadi bagian dari jalur peradaban penting di masa lampau.
Saat ini lokasi tersebut telah mendapatkan status sebagai cagar budaya, lengkap dengan pendopo untuk melindungi situs. Keberadaan situs tersebut juga membuka peluang pengembangan wisata sejarah yang dapat melengkapi wisata pertanian.
Penemuan Situs Candi Manunjung turut memunculkan kembali pembahasan mengenai asal-usul nama Pendem. Hingga kini belum ada sumber tertulis yang secara pasti menjelaskan sejarah penamaan desa tersebut. Namun sejumlah dugaan berkembang di tengah masyarakat berdasarkan hasil kajian arkeologis dan cerita rakyat.
“Asumsi kami, nama Pendem bisa berkaitan dengan adanya peninggalan yang terpendam di dalam tanah. Karena candi yang ditemukan itu memang terkubur dan baru ditemukan kembali setelah ratusan tahun,” jelasnya.
Meski demikian, pemerintah desa masih menunggu kajian lebih lanjut dari para ahli sejarah dan arkeologi sebelum menetapkan narasi resmi mengenai asal-usul desa.
“Kami belum berani menyimpulkan. Tapi penemuan situs ini menjadi petunjuk penting untuk memahami sejarah Pendem yang sebenarnya,” pungkasnya.
Editor: Intan Refa





