Desa Torongrejo: Jejak Sejarah dan Alam di Gerbang Kota Batu

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Desa Torongrejo di Kecamatan Junrejo dikenal sebagai penjaga pintu masuk Kota Batu. Desa ini sarat akan nilai sejarah dan kelimpahan sumber daya alam.
Sebagai salah satu desa penyangga, Desa Torongrejo tengah bersiap memasuki babak baru kepemimpinan untuk mengoptimalkan potensi yang selama ini terpendam di balik hamparan persawahan dan situs-situs purbakala.
Secara geografis, Torongrejo menempati posisi strategis di lembah yang subur dengan pemandangan pegunungan yang mengelilinginya. Berbeda dengan wilayah dataran tinggi Batu yang dingin menusuk, Torongrejo menawarkan iklim yang lebih hangat namun tetap sejuk.
Ini menjadikannya salah satu lumbung pertanian hortikultura terbaik. Kekuatan desa ini terletak pada aliran airnya yang melimpah yang sejak zaman dahulu telah menghidupi masyarakat dan membentuk peradaban kecil di kaki Gunung Ukir.
Baca juga:
Merawat Sisa Kejayaan Apel di Desa Tulungrejo, Kota Batu
Penjabat (Pj) Kepala Desa Torongrejo yang baru saja menjabat Takim menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini adalah mengubah paradigma pendapatan desa. Ia ingin menggeser ketergantungan Pendapatan Asli Desa (PAD) yang selama ini hanya mengandalkan sektor agraria konvensional menuju sektor pariwisata yang lebih produktif dan berkelanjutan.
“Pelaksanaan APBD yang sudah kita sepakati akan segera kita optimalkan. Terus yang kedua, sisi budaya dan wisata, ini yang menjadi prioritas kita. Kita punya beberapa tempat wisata harusnya yang bisa kita kembangkan,” ungkap Takim.
Dalam hal ini ada tiga pilar wisata yang menjadi prioritas adalah Sumber Watu Saron, Arca Ganesha dan Gunung Ukir. Sebagai gambaran ketiganya mewakili kombinasi antara kekayaan alam dan jejak sejarah masa lampau.

Sumber Watu Saron merupakan mata air jernih yang menjadi tumpuan warga, sementara Arca Ganesha dan Gunung Ukir menyimpan nilai arkeologis penting. Gunung Ukir sendiri merupakan situs ditemukannya Prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 Masehi. Ini menjadi salah satu bukti tertua keberadaan Kerajaan Kanjuruhan di Jawa Timur.
Takim meyakini bahwa optimalisasi destinasi ini bukan sekadar mengejar angka PAD. Melainkan upaya menciptakan kemandirian ekonomi bagi warganya. Dengan pengembangan yang tepat, ia berharap Desa Torongrejo bisa membuka lapangan kerja baru bagi generasi muda desa.
“Harapannya bisa timbul kesejahteraan masyarakat, penciptaan lapangan kerja yang berlebih di destinasi wisata tersebut. Jadi kalau selama ini PAD hanya mengandalkan tanah kas desa atau bengkok, nanti harapannya kita optimalkan untuk destinasi wisata itu,” tambah Takim.
Bagi Anda yang ingin mencoba wisata alternatif di Kota Batu, Torongrejo menawarkan ketenangan yang jarang ditemukan di pusat kota. Anda bisa menikmati kejernihan air di Sumber Watu Saron atau menelusuri sejarah Mataram Kuno di puncak Gunung Ukir sambil menikmati pemandangan kota dari kejauhan.
Akses menuju Desa Torongrejo sangat mudah. Jika Anda berangkat dari arah Kota Malang, arahkan kendaraan Anda melewati jalur Dau menuju Sengkaling. Setelah melewati gerbang perbatasan Kota Batu di wilayah Pendem, Anda akan menemukan pertigaan besar di Simpang Pendem.
Alih-alih lurus ke arah Alun-Alun Batu, Anda bisa mengambil jalur ke arah Junrejo/Torongrejo. Ikuti jalan utama yang membelah area persawahan yang luas.
Desa Torongrejo berada di sepanjang jalur tersebut, dengan pemandangan Gunung Ukir yang menjulang di sisi kiri jalan. Jalur ini merupakan pilihan terbaik bagi Anda yang ingin masuk ke pusat Kota Batu melalui sisi selatan, sembari menikmati hembusan angin sawah yang menyegarkan.
Editor: Intan Refa




