Jalan Jalan Plus

Desa Sidomulyo, Sentra Bunga yang Diwariskan Turun Temurun

Pasar Bunga Sekarmulyo, Desa Sidomulyo Kota Batu. (Foto: Asrur Rodzi)
Pasar Bunga Sekarmulyo, Desa Sidomulyo Kota Batu. (Foto: Asrur Rodzi)

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Jika Anda memasuki Kecamatan Bumiaji via Jalan Brantas, Anda akan disambut deretan kios tanaman hias dan pekarangan rumah yang dipenuhi aneka macam bunga. Pemandangan tersebut menjadi ciri khas Desa Sidomulyo, salah satu sentra bunga terbesar dan tertua di Kota Batu.

Mayoritas warga desa yang terdiri dari tiga dusun ini menggantungkan hidup dari budidaya tanaman hias. Tradisi menanam bunga yang telah berlangsung turun-temurun kini tidak hanya menjadi sumber ekonomi. Tetapi berkembang menjadi daya tarik wisata berbasis masyarakat.

Salah satu pusat aktivitasnya berada di Pasar Bunga Sekar Mulyo. Kawasan yang berdiri di atas tanah kas desa tersebut menjadi tempat para petani memamerkan sekaligus menjual hasil budidaya mereka secara langsung kepada wisatawan.

Salah satu pedagang sekaligus pengurus Pokdarwis Desa Sidomulyo Agung Giantoro menjelaskan bahwa sentra bunga ini memberi ruang yang sama bagi warga dalam memasarkan produknya.

Baca juga:

Desa Pandanrejo, Surga Stroberi di Lereng Gunung Arjuno

“Warga yang membudidayakan bunga di 100 persen warga Sidomulyo, mereka yang berjualan wajib mempunyai KTP Sidomulyo,” ujarnya.

Selain berbelanja tanaman hias, wisatawan juga dapat berinteraksi langsung dengan para petani untuk belajar mengenai teknik pembibitan, perawatan tanaman, hingga budidaya bunga. Menurut Agung, perkembangan teknologi turut mengubah pola pemasaran tanaman hias di Sidomulyo.

Mall bunga Sidomulyo Kota Batu. (Foto: Istimewa)
Mall bunga Sidomulyo Kota Batu. (Foto: Istimewa)

Saat ini banyak warga memanfaatkan media sosial, marketplace, hingga siaran langsung untuk menjangkau pembeli dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kalangan anak muda banyak melayani pembeli secara online walaupun begitu mereka tak sebatas sebagai pemasaran mereka juga pertani bunga,” jelasnya.

Hal ini jelas berbeda dengan “tren” anak muda yang tak meneruskan profesi orang tua mereka sebagai petani. Menurut Agung kreativitas pemuda dalam bertani terlihat dari aktivitas mereka memasarkan bunga di platform digital.

“Biasanya mereka live TikTok atau bermain di medsos lain” jelas Agung.

Agung menjelaskan kreativitas ini juga yang menjadi daya tarik utama bagaimana industri bunga di Sidomulyo tetap eksis. Menurutnya beberapa warga ada yang punya bakat sebagai seniman. Beberapa instalasi bunga dan taman berasal dari tempat ini.

“Kalau sekarang yang lagi rame ini tanaman rindang. Jadi ini jenis tanaman yang bisanya digunakan dalam pembangunan kota atau taman. Kayak depan ini tumpukan kayu ini nanti mau disulap jadi taman kering,” jelas Agung sambil menunjuk tumpukan kayu besar di dalam area pasar bunga.

Kreativitas juga terlihat dari tradisi ulang tahun desa atau selametan desa. Beberapa event bunga level kota seperti Batu Art Flower Carnival juga berasal dari desa ini. Agung juga menjelaskan ada juga parade bunga pada tingkat desa.

“Iya sayangnya tahun ini gak ada karena ada efisiensi,” ungkapnya.

Ke depan, Pemerintah Desa bersama Pokdarwis berencana mengembangkan konsep village tour yang menghubungkan Pasar Bunga Sekar Mulyo dengan kebun petik mawar dan homestay milik warga. Konsep ini tujuannya adalah memberikan pengalaman lebih lengkap bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana pedesaan khas Bumiaji.

Dengan perpaduan antara keindahan tanaman hias, tradisi budidaya turun-temurun, serta dukungan digitalisasi pemasaran, Desa Sidomulyo terus memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kota Batu. (adv)

Editor: Intan Refa

Asrur Rodzi

Jurnalis City Guide FM yang berfokus pada liputan berita seputar Kota Batu, mencakup isu pemerintahan, pariwisata, peristiwa, dan perkembangan terkini di wilayah Kota Batu dan sekitarnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Visual Radio

x