Beda Gender, Beda Pola Asuh?

CITY GUIDE FM, CONSOLOGI – Budaya patriarki dan konstruksi sosial yang masih mengakar di masyarakat memberikan pengaruh kuat terhadap pola asuh anak tergantung gender. Misalnya anak laki-laki harus kuat, tegas, tidak boleh menangis dan harus bisa menjadi pelindung. Sementara anak perempuan, harus bersikap lemah lembut, penurut, hati-hati dan tidak terlalu mandiri.
Dosen Psikologi Universitas Merdeka Malang Dr Agustin Rahmawati MSi Psikolog mengatakan seiring berjalannya waktu, pola asuh seperti itu mulai bergeser ke pola asuh androgini. Artinya, pola pengasuhannya tidak full maskulin serta tidak juga full feminin.
“Kita ingat semakin ke sini androgini ini semakin banyak diperkenalkan gitu ya. Untuk membentuk anak-anak itu lebih adaptif, lebih mampu menyesuaikan diri dalam berbagai situasi,” kata Agustin.
Simak di sini:
Ia mengatakan pola asuh androgini memungkinkan anak memiliki pengasuhan yang setara. Serta membentuk kekuatan karakter individu, terlepas dari apa gendernya. Misalnya, anak laki-laki boleh memiliki sisi lembut dan empati. Sedangkan perempuan boleh tegas, mandiri dan berani mengambil keputusan. Dalam artian, pola asuhan ini tidak membatasi karakter anak dengan label, “ini sifat laki-laki” dan “ini sifat perempuan”.
“Memang lawan kita akhirnya adalah budaya, masyarakat dan tuntutan. Stereotype itu kan karakter yang diharapkan, yang bisa diterima oleh masyarakat. Tetapi sekali lagi saya ingin memperkenalkan itu memang enggak mudah, saya yakin enggak mudah,” lanjutnya.
Baca juga:
Kapan Waktu yang Tepat Memulai Kisah Baru Setelah Perceraian?
Lebih lanjut soal pengasuhan anak, Agustin mengatakan pada dasarnya kebutuhan emosional anak itu sama, baik anak laki-laki maupun perempuan. Antara lain mereka ingin didengar, dipedulikan, dihargai dan disayangi oleh orang sekitarnya. Maka, orang tua perlu mengajarkan anak cara meregulasi emosi tanpa kehilangan wadah mengekspresikan perasaannya. Seperti marah, kecewa, sedih atau tidak setuju.
“Kebutuhan emosional dari orang tua itu sangat vital bagi anak,” tegasnya.
Menurutnya, anggapan bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis membuat anak menekan emosinya yang akan mempengaruhi psikisnya. Ada lagi soal pekerjaan rumah. Saat ini telah banyak orang tua yang tidak membeda-bedakan gender untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Tentu, yang tak kalah pentingnya adalah hubungan yang sehat serta kematangan emosi ayah dan ibu ikut memengaruhi kualitas pengasuhan. Sebab, orang tua adalah model utama bagi anak.





