Consology

Tekanan Sunyi di Balik Label “Istri Ideal”

Consologi edisi 13 Mei 2026,"Tekanan Sunyi di Balik Label Istri Ideal,"
Consologi edisi 13 Mei 2026,”Tekanan Sunyi di Balik Label Istri Ideal,”

CITY GUIDE FM, CONSOLOGI – Label “Istri Ideal” seolah menjadi standar emas masyarakat Indonesia. Terutama masyarakat yang menganut norma patriarki yang menuntut istri untuk sabar, lemah lembut, penurut, melayani suami, mengurus anak dan rumah tangga serta mendukung apa yang diinginkan suami.

Dosen Psikologi Universitas Merdeka Malang Ritna Sandri MPSi Psikolog mengatakan persepsi ini bisa menjadi jebakan jika istri dipaksa memenuhi standar tanpa ruang komunikasi dan ekspresi diri.

“Kalau memang patokan istri ideal seperti itu, memang akan menjadi masalah ketika perempuan ini sebelum menikah adalah orang yang asertif. Orang yang terbiasa berdiskusi, mengungkapkan apa yang dirasakan, tidak bisa terus melulu sabar,” jelas Ritna.

Pada akhirnya banyak perempuan menikah yang merasa kehilangan jati diri, karena harus memilih antara karir atau keluarga. Sementara lingkungan sosial menuntut kesempurnaan peran domestik.

Tekanan ini mau tidak mau membuat perempuan menekan keinginan atau impian pribadinya demi keharmonisan rumah tangga. Fenomena ini disebut self silencing yang artinya perempuan yang mengubur keinginan dan perasaannya agar tidak menyakiti hubungan rumah tangga.

Jika ini terus dipendam hingga berlarut-larut, seringkali menjadi beban mental bagi istri. Seperti konflik batin ketika istri harus menurut tanpa melibatkan pendapatnya dalam mengambil keputusan.

Penurunan perhatian terhadap diri sendiri karena fokus mengurus suami dan anak, apalagi setelah melahirkan cukup banyak menambah tekanan mental. Kondisi ini kemudian bersanding dengan stigma sosial saat istri mengeluh artinya tidak bersyukur, semakin menambah rasa kesepian dan kesulitan.

Lalu ini diperparah dengan konten media sosial estetic motherhood yang memberikan standar tinggi sosok istri dan ibu. Seolah ada standar ganda bahwa perempuan harus sempurna di segala hal, mulai di dapur, karir, pendidikan hingga kehidupan intim.

“Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa akhirnya standar kita itu adalah apa yang kita lihat di media sosial. Standar kesuksesan, standar parenting dan sebagainya,” lanjutnya.

Jika ini dipaksakan perempuan umumnya akan menderita multi role burnout yang berujung pada smiling depression. Ritna menegaskan bahwa konten di media sosial adalah referensi dan infomasi, bukan acuan.

Oleh karena itu, Ritna menyebut pentingnya komunikasi yang terbuka, agar baik suami maupun istri memahami masing-masing beban yang ditanggung. Suami istri haruslah tumbuh bersama dengan saling menghormati dan memahami peran masing-masing.

Simak di sini:

Intan Refa

Editor City Guide 911 FM dengan pengalaman mengelola konten berita seputar Malang Raya. Bertanggung jawab atas akurasi, kelengkapan, dan kualitas pemberitaan di cityguide911fm.com

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Visual Radio

x