Consologi

Kapan Waktu yang Tepat Memulai Kisah Baru Setelah Perceraian?

Consologi edisi 7 Oktober 2026, "Kapan Waktu yang Tepat Memulai Kisah Baru Setelah Perceraian?"
Consologi edisi 7 Oktober 2026, “Kapan Waktu yang Tepat Memulai Kisah Baru Setelah Perceraian?”

CITY GUIDE FM, CONSOLOGI – Memulai kisah baru setelah perceraian bukan soal seberapa cepat seseorang mendapatkan pasangan baru. Akan tetapi seberapa tuntas seseorang berdamai dengan masa lalunya. Sebab, menurut Dosen Psikologi Universitas Merdeka Malang Dr Rinto Wahyu Widodo SPsi MTh MSi, orang yang bercerai sebenarnya sedang mengalami luka psikologis.

Artinya, ia akan rentan mengalami ledakan emosional apabila luka itu belum sembuh. Oleh karena itu, kata Rinto, penting untuk mengenali diri sendiri, apakah sudah pulih dari luka atau belum. Ciri-ciri orang yang telah sembuh dari luka psikologis biasanya terlihat saat membicarakan masa lalu, ia tidak lagi terbawa emosi.

“Kemudian yang kedua sudah menerima diri dengan statusnya yang lajang sekarang. Dia mulai merawat diri dan menemukan kembali identitasnya yang mandiri. Walaupun lajang, dia mandiri. Lalu dia berhenti menyalahkan mantan atau menyalahkan diri sendiri secara destruktif. Ia mendefinisikan ulang tentang apa yang sebenarnya mereka cari dari pasangan baru kalau mau memulai yang baru,” jelas Rinto.

Simak di sini:

Selain itu, tidak sedikit orang setelah merasakan perceraian dan memulai hubungan baru bukan karena telah siap. Umumnya mereka mencari pelarian karena tidak sanggup merasakan kesepian. Hal ini justru akan menimbulkan masalah baru.

“Karena pasangan yang baru menghendaki ada take and give ya, hubungan dua arah. Tetapi pasangan yang belum sembuh ini bawaannya akan menuntut atau mencari pemenuhan atas kebutuhan yang enggak penuh tadi. Bisa bertanya pada diri sendiri, ‘Apakah saya membangun hubungan baru hanya untuk ingin membuktikan pada mantan bahwa saya baik-baik saja misalnya, bahwa saya bisa mendapatkan orang yang lebih dari kamu misalnya. Kalau jawabannya iya mungkin itu indikasi belum siap,” lanjutnya.

Rinto juga menyebut tanda orang yang belum sembuh secara emosional pascacerai antara lain sikapnya cenderung ketus, judes, kurang hangat dan mudah meledak emosinya. Karena, dia masih membangun benteng pertahanan diri akibat trauma. Orang yang bercerai karena pengkhianatan dari pasangan, biasanya memiliki trust issue yang akan mempengaruhi kualitas hubungan selanjutnya.

Baca juga:

Rumah Tangga Retak di Usia Senja (Gray Divorce)

“Seseorang yang bercerai akibat perselingkuhan dari pasangannya itu seringkali dia akan cenderung mengingat-ingat hal-hal buruk di masa lalu. Khususnya yang menyangkut sesuatu yang sangat menyakitkan. Jadi tanpa disadari itu akan terjadi ruminasi, berpikir berulang-ulang tentang hal-hal buruk di masa lalu. Itu perlu mengakui bahwa ada yang belum sembuh dalam diri saya. Luka lama saya secara psikologis itu belum sembuh,” kata Rinto.

Ada beberapa cara untuk menyembuhkan luka batin atau trauma di masa lalu. Pertama, menerima bahwa kegagalan di masa lalu adalah kontribusi kedua belah pihak. Kedua, memaafkan diri sendiri dan pasangan bahwa tidak ada orang yang tidak pernah salah. Karena sembuh dari luka itu bukan dengan cara menjauhi lukanya, bukan dengan menutupi lukanya, tapi justru dengan membuka luka itu.

Kata Rinto, tidak ada waktu yang pasti atau ideal kapan kesiapan emosional atau kesembuhan luka dan trauma dari seseorang itu akan terbentuk. Semuanya tergantung pada bagaimana internal diri mengelola trauma dan melakukan penerimaan atas pengalaman hidup yang pahit ini.

Intan Refa

Editor City Guide 911 FM dengan pengalaman mengelola konten berita seputar Malang Raya. Bertanggung jawab atas akurasi, kelengkapan, dan kualitas pemberitaan di cityguide911fm.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Visual Radio

x