Sound Horeg EWS, Ubah Keresahan Jadi Inovasi

CITY GUIDE FM, CAFE IDE – Inilah Andi Surya, sosok di balik munculnya aplikasi Sound Horeg EWS (Early Warning System) untuk mendeteksi lebih awal karnaval yang turut menyuguhkan sound system berdesibel tinggi. Ia bercerita, pertama kali tahu sound horeg itu saat tengah perjalanan pulang dari wisata di Malang Selatan.
“Itu kan lewat dari Ampel Gading mau ke Turen. Nah, dari jauh kelihatan lampu sorot, terus semakin dekat dengan lampu sorot itu kok suaranya makin keras gitu. Saya pikir konser atau acara selawatan dan sebagainya. Cuman kok semakin ke sini kok suaranya bukan selawatan. Jadi, suara-suara kayak DJ. Semakin mendekat, aduh suaranya tuh ketika lewat di samping sound horeg itu waduh benar-benar bergetar badan. Setelah lewat itu saya jadi kepikiran, ini orang-orang kok kuat banget dengan suara sound horeg,” kata Andi.
Ternyata, ia mendapati bahwa karnaval semacam ini muncul silih berganti, mulai Agustus hingga akhir tahun. Bermula dari hal itu, terpikir di benaknya, bagaimana caranya agar bisa tahu lebih awal karnaval sound horeg. Sehingga, ia bisa menghindari gelegar suara yang membuat dada sakit itu.
Simak di sini:
Aplikasi berbasis website ini (ews.soundhoreg.id) menampilkan beberapa fitur. Fitur yang pertama adalah fitur sound horeg yang memunculkan peta dan jadwal event yang sedang berlangsung hingga berapa hari ke depan. Lalu ada juga fitur “Cek Posisi Saya” yang memuat posisi pengguna apakah berada di dalam radius kebisingan sound horeg atau tidak.
“Nah, terus juga ada fitur baru namanya ‘Lihat Jalan Ditutup’. Jadi nanti sistem menampilkan kira-kira rute dari karnaval sound horeg itu,” kata Andi.
Serta, pengguna dapat menentukan pengaturan radius tertentu misalnya 5-10 km, untuk mendapatkan informasi terkait karnaval sound horeg yang berada di radius itu. Andi juga menjelaskan bahwa cara kerja situs ini adalah mengumpulkan segala informasi karnaval sound horeg di media sosial.
Lalu sistem tersebut akan mengelompokkan tingkat kelengkapan informasi acara. Ketika data-data yang terkumpul cukup jelas, Andi akan melakukan kurasi dan verifikasi secara manual. Baru kemudian, acara tersebut akan muncul di Sound Horeg EWS. Yang menarik, bagaimana mengukur radius kebisingannya jika informasi hanya berasal dari media sosial?
Baca juga:
Sound Horeg, Antara Hiburan atau Gangguan?
Kata Andi, ia tidak mengukur langsung. Tapi melalui sejumlah parameter antara lain jumlah sound, karakteristik audio atau sound system, jarak, standar tingkat kebisingan yang kemudian menghasilkan radius dampaknya. Di dalam sistem ini ada tiga tingkatan yaitu 55 desibel (dB), 65 dB dan 75 dB.
Semula, ia membuat aplikasi ini hanya untuk lingkup Malang Raya yang saat ini sedang tergila-gila dengan sound horeg. Tapi ternyata, ada masyarakat dari luar Malang yang ingin wilayahnya tercover. Seperti Sidoarjo, Lumajang, Banyuwangi, bahkan ada dari Jawa Tengah.
Ternyata, Andi juga menciptakan aplikasi lain yang sepertinya akan berguna bagi masyarakat Malang yaitu PetaPOI. Seperti namanya, ia adalah peta yang membantu pengguna untuk menemukan minimarket, ATM atau lokasi tertentu yang tidak memiliki juru atau tukang parkir. Ide ini juga berangkat dari keresahan pribadi dan publik atas menjamurnya jukir yang hampir ada di setiap tempat.




