Cafe Ide

Melek Aksara Jawa, Bukan Sekedar Warisan

Cafe Ide edisi 19 Desember 2025,"Aksara Jawa, Bukan Sekedar Warisan"
Cafe Ide edisi 19 Desember 2025,”Melek Aksara Jawa, Bukan Sekedar Warisan”

CITY GUIDE FM, CAFE IDE – Eksistensi aksara Jawa tampaknya perlahan memudar di generasi-generasi muda. Warisan leluhur ini mungkin jadi sebatas pelajaran di sekolah, tanpa memahami filosofi di dalamnya. Berangkat dari kegelisahan ini, founder babat.id Abdul Arief berinisiatif membentuk komunitas Melek Aksara Jawa (KMAJ) pada 5 Juni 2024.

Divisi Hubungan Eksternal dan Kerjasama KMAJ Brian Ardiansyah mengatakan misi utama komunitas ini adalah membumikan kembali aksara Jawa. Sehingga, fokusnya adalah menggali informasi naskah-naskah kuno beraksara Jawa, mengajak masyarakat belajar aksara Jawa dan menghubungkan kembali masyarakat saat ini dengan pengetahuan yang tersimpan di manuskrip kuno.

“Yang paling utama adalah membumikan aksara Jawa ke generasi muda. Karena kami menyadari tahun-tahun mendatang, yang memegang tongkat estafet pelestarian aksara Jawa ya mereka,” ungkap Brian.

Simak di sini:

Di komunitas ini, para anggota tidak hanya belajar membaca aksara Jawa, tapi juga mengajak anggotanya memahami isi naskah. Ada beberapa tingkatan kelas yaitu Kelas Purwa yaitu peserta yang benar-benar belajar mulai dari nol. Lalu ada Kelas Utama yang berisi peserta yang sudah bisa membaca, sehingga fokusnya adalah mengkaji isi naskah.

Sebab di balik aksara Jawa di manuskrip kuno, terdapat pengetahuan, sejarah, resep, pengobatan, cerita, dan beragam informasi kehidupan masyarakat di masa lalu.

Baca juga:

ASI Menyusui dan Donor ASI

Brian menjelaskan, ada perbedaan antara aksara Jawa anyar yang digunakan sekarang dengan aksara Kawi yang usianya lebih tua. Secara runutan sejarahnya, mulai dari bahasa Brahmi, lalu berkembang menjadi bahasa Sanskerta dengan huruf Pallawa, kemudian berkembang lagi menjadi aksara Kawi.

“Kalau aksara Kawi itu yang dipakai di prasasti-prasasti,” imbuhnya.

Setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit, ada perubahan kepercayaan dari Hindu Budha ke Islam turut memengaruhi perkembangan aksara, menjadi aksara Jawa anyaran yang dikenal sekarang.

“Kalau mungkin ajaran sekolah, pencipta aksara Jawa itu Aji Saka yang mengarang 20 aksara itu (hanacaraka). Itu cerita versi sastra yang berhubungan dengan legenda, mitos. Ya, sah-sah saja karena kalau mitos legenda itu yang terpenting adalah ajaran moralnya. Tapi masyarakat kita memahaminya sebagai fakta sejarah, padahal bukan,” jelasnya.

Ia mengatakan aksara Jawa masih relevan hingga saat ini, khususnya sebagai branding budaya. Ada beberapa negara yang aksara lokalnya dapat berdampingan dengan tulisan latin. Dengan catatan, penulisan bahasa Jawa-nya harus tepat. Karena Brian pernah mendapati fenomena tulisan di papan tepi jalan yang menggunakan aksara Jawa tapi tidak tepat penulisannya. Alias sekedar terlihat “Jawa”.

Oleh karena itu, pelestarian ini selain mempertahankan masa lalu juga turut membuatnya kembali memiliki fungsi di masa sekarang.

Intan Refa

Editor City Guide 911 FM dengan pengalaman mengelola konten berita seputar Malang Raya. Bertanggung jawab atas akurasi, kelengkapan, dan kualitas pemberitaan di cityguide911fm.com

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Visual Radio

x