Khofifah Imbau Tak Perlu Panic Buying, Kapal Impor BBM Tiba di Tanjung Perak

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memproyeksikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertamax, Pertalite, dan solar tetap mencukupi hingga 31 Oktober. Ia meminta masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying yang akan memperburuk situasi.
Khofifah juga akan memperketat pengawasan untuk mencegah praktik pembelian yang tidak sesuai peruntukan. Seperti modus pembelian BBM menggunakan tangki berkapasitas besar lalu menjualnya secara eceran.
“Kita mencoba mengoordinasikan secara komprehensif, baik dari penyedia Pertamina Patra Niaga maupun dari proses pengawasan, terutama dengan jajaran kepolisian,” katanya.
Ketika sebagian pihak membeli BBM melampaui kebutuhan, masyarakat lain berisiko kesulitan memperoleh bahan bakar meskipun pasokan secara keseluruhan mencukupi.
Baca juga:
Antrian BBM Mengular di Malang, Wahyu Klaim Pasokan Aman
“Jadi mari kita bersama-sama menciptakan suasana yang bisa memberikan pemenuhan kebutuhan sesuai proporsinya. Hindari panic buying,” tegasnya.
Khofifah memastikan ketersediaan bahan bakar minyak di Jawa Timur relatif aman. Bahkan, Pertamina Patra Niaga Jatim Balinus telah meningkatkan pasokan di Malang Raya sebesar 120 persen dari 340 kiloliter (KL) menjadi sekitar 407 KL per hari. Kata Khofifah, pasokan tersebut telah melebihi kuota dari yang seharusnya.
“Kalau data dari stok di Pertamina, sebetulnya stoknya relatif aman. Saya menyebut relatif karena sekarang kapal impor BBM sudah merapat di Tanjung Perak,” ujar Khofifah saat meninjau SPBU Ciliwung pada Sabtu malam (17/10/2026).
Baca juga:
Konsumsi BBM di Malang Naik 10 Persen, Pertamina Tambah Pasokan
Meski demikian, persoalan antrean panjang di sejumlah daerah tetap perlu ditangani secara serius. Sebab, antrean panjang sebelumnya juga terjadi di Jember dan Bondowoso. Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pertamina Patra Niaga telah melakukan dua kali rapat koordinasi untuk mengevaluasi persoalan tersebut.
Menurut dia, distribusi BBM harus dilakukan secara proporsional berdasarkan kebutuhan masing-masing wilayah. Jawa Timur memiliki lima terminal BBM yang menopang distribusi yakni di Malang, Jember, Tanjungwangi, Madiun, serta Tuban atau Surabaya.
“Harapan kita, mereka akan melakukan proses suplai BBM sesuai dengan proporsi masing-masing, karena kebutuhan itu sudah ada datanya di Pertamina,” tegasnya.
Ia mengakui, Malang sebagai daerah tujuan wisata memiliki karakteristik permintaan BBM yang dapat meningkat pada waktu-waktu tertentu. Pihaknya ingin memastikan masyarakat yang membutuhkan Pertalite maupun solar tidak mengalami kesulitan mendapatkan BBM.
Editor: Intan Refa





