Pemkot Malang Ingatkan Risiko Hoaks dan Penyalahgunaan Teknologi AI

CITY GUIDE FM, KOTA KOTA – Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Malang mendorong penguatan literasi digital masyarakat, khususnya dalam penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), di tengah meningkatnya risiko penyalahgunaan teknologi tersebut.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menegaskan bahwa pemanfaatan AI harus dilakukan secara bijak agar tidak menimbulkan dampak negatif, terutama di ruang digital.
“Teknologi ini membawa banyak manfaat, tetapi juga memiliki potensi risiko. Karena itu masyarakat harus mampu memilah dan memilih penggunaannya secara bijak,” kata Wahyu dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) bertema Produktif dan Bijak Menggunakan AI di mini block office kota Malang.
Kegiatan yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Malang itu diikuti 100 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pemuda hingga lanjut usia. Program tersebut merupakan tahap awal dari total 308 peserta yang diusulkan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
Wahyu menyoroti bahwa perkembangan teknologi saat ini tidak lagi mengenal batas usia. Anak-anak, bahkan di usia dini, sudah akrab dengan perangkat digital dan platform daring.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri, sehingga diperlukan edukasi serta pembatasan penggunaan media sosial, khususnya bagi anak di bawah usia 16 tahun. Pemkot Malang, kata dia, telah lebih dahulu mengeluarkan imbauan terkait hal tersebut sebelum kebijakan serupa diterapkan pemerintah pusat.
Selain itu, Wahyu juga menekankan pentingnya pemanfaatan AI untuk hal-hal produktif, termasuk dalam mendukung kinerja pemerintahan. Ia mencontohkan penggunaan teknologi AI dalam sistem kepegawaian yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi dan akurasi data.
Sementara itu, Kepala Diskominfo Kota Malang, Muhammad Nur Widianto, mengatakan kegiatan Bimtek ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi transformasi digital sekaligus mendukung visi pembangunan daerah.
“Tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga harus berkelas dalam arti bijak memanfaatkannya,” ujar Nur Widianto, Kamis (30/4/2026).
Ia mengungkapkan, berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika, terjadi lonjakan signifikan penyebaran konten hoaks berbasis AI, bahkan mencapai sekitar 1.000 lebih persen.
Bentuk penyalahgunaan tersebut antara lain video deepfake tokoh publik, kloning suara untuk penipuan, hingga manipulasi konten visual yang menyesatkan.
Menurut dia, fenomena tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat agar lebih kritis dalam menerima informasi, terutama yang beredar di media sosial.
“Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu memahami dasar-dasar AI sekaligus mengantisipasi potensi penyalahgunaannya,” kata dia.




