Mengenali Tanda Hubungan Toxic dan Abusif

CITY GUIDE FM, CONSOLOGI – Ketika sudah kepalang cinta, kadang bisa membutakan akal sehat dalam membedakan mana hubungan yang sehat dan mana yang toxic dan abusif. Dosen Psikologi Universitas Merdeka Malang Taufiqurrahman SPsi MA menjelaskan hubungan yang sehat terwujud di atas kesetaraan, saling percaya dan saling menghargai.
Sebaliknya hubungan yang mengandung kontrol biasanya menunjukkan dominasi satu pihak atas pihak lain. Misalnya mengatur pergaulan, pakaian atau aktivitas pasangan atas nama cinta. Taufiq mengatakan ada beberapa tanda hubungan yang sudah menjurus ke arah toksik.
Antara lain cemburu berlebihan atau posesif, selalu curiga, memberikan kritik bahkan penghinaan terus menerus, kurang empati, membatasi kebebasan pasangan dan komunikasi yang buruk. Jika ini terus berlanjut, maka lama kelamaan hubungan akan semakin cenderung abusif.
Beberapa tandanya adalah memberikan kontrol sistematis, suka mengancam, manipulatif hingga berujung pada kekerasan verbal, emosional hingga fisik. Pada hubungan ini, relasi dominan dan subordinat terlihat jelas.
Baca juga:
Tekanan Sunyi di Balik Label “Istri Ideal”
Sayangnya, banyak orang tidak mampu keluar dari situasi hubungan yang sudah redflag ini. Korban seringkali merasa terjebak karena ada rasa takut ditinggalkan, rendah diri dan ketergantungan emosional. Parahnya lagi korban terpaksa membenarkan perilaku pasangan atas dasar rasa sayang.
Bahkan korban hubungan ini sudah mengalami situasi trauma bonding yaitu siklus disakiti lalu diberikan kasih sayang setelahnya, sehingga korban merasa dicintai lagi. Tidak hanya itu, pasangan yang abusif ini sering memanipulasi pasangannya agar meragukan realitasnya sendiri.
Misalnya, “Aku marah demi kebaikanmu”, atau “Aku melakukan ini karena cinta”. Padahal tindakan tersebut adalah bentuk kekerasan dan kontrol dalam hubungan. Ketika Anda sudah menyadari tengah berada di hubungan yang tidak sehat seperti ini, Taufiq memberikan sejumlah saran.
Pertama, validasi kondisi dengan orang terpercaya atau psikolog. Lalu tegakkan boundaries atau batasan atas sikap pasangan. Kemudian berani berkata tidak dan berani memutuskan hubungan jika sudah melampaui batas.
“Cinta yang sehat itu tidak menguasai atau membatasi, tapi mendukung pertumbuhan kedua pihak”
Simak selengkapnya di sini:


