Peristiwa dan Hukum

Imbas Kebakaran TPA Supit Urang, Stok Air Pemadam Menyusut Drastis

Tim pemadam kebakaran berjibaku mengendalikan api di TPA Supit Urang. (Foto: Istimewa)
Tim pemadam kebakaran berjibaku mengendalikan api di TPA Supit Urang. (Foto: Istimewa)

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Butuh sekitar 16 ribu liter air setiap lima menit untuk memadamkan kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Gamaliel Raymond Matondang menjelaskan ada empat pompa penyemprot untuk membasahi area kebakaran. Masing-masing pompa membutuhkan menyedot 4 ribu liter air dalam waktu kurang lebih lima menit.

“Begitu tangki air diisi oleh truk tangki, langsung ditembakkan,” kata Gamaliel, Sabtu (24/10/2026).

Besarnya konsumsi air tersebut memunculkan persoalan lain. Kolam penampungan air untuk mendukung pemadaman kabarnya mengalami penyusutan signifikan. Kata Gamaliel, ketinggian air yang semula enam meter kini tersisa kurang lebih 50 sentimeter.

Sumber air tersebut sebelumnya memiliki volume lebih dari 16 ribu meter kubik. Namun, pengambilan air secara berulang untuk memenuhi kebutuhan pemadaman membuat cadangannya terus menipis.

Baca juga:

32 Titik Api Masih Terdeteksi di TPA Supit Urang

Mengantisipasi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiapkan alternatif dengan membuat semacam bendungan di dekat Kelurahan Mulyorejosari. Fungsinya menjaga keberlanjutan pasokan air, karena proses pemadaman tidak hanya dengan sekali penyiraman.

Petugas harus terus membasahi area yang terbakar untuk mencegah api kembali muncul dari dalam timbunan sampah. Dukungan logistik air sebenarnya juga datang dari sejumlah instansi lain. Pemerintah Kabupaten Malang mengerahkan mobil damkar, serta kendaraan water cannon dari Polresta Malang Kota dan Polres Malang.

Selain itu, tangki air dari Balai Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ikut dimanfaatkan untuk menambah pasokan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga akan turun tangan. Gamaliel mengatakan meskipun api di permukaan tidak terlihat, tapi kepulan asap yang masih muncul mengharuskan petugas melakukan penyiraman hingga ke bawah timbunan.

Hal ini tidak terlepas dari karakteristik material yang terbakar. Area kebakaran mencakup timbunan sampah lama atau old landfill yang berisi campuran berbagai jenis sampah, termasuk material organik dan plastik. Sisa bara yang tidak sepenuhnya padam dapat memicu kemunculan api, terutama ketika terdapat rumput kering di sekitar lokasi.

Heri Prasetyo

Jurnalis City Guide 911 FM yang berfokus pada liputan berita seputar Kota Malang, mencakup isu pemerintahan, sosial, ekonomi, dan peristiwa terkini di wilayah Malang Raya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Visual Radio

x