32 Titik Api Masih Terdeteksi di TPA Supit Urang

CITY GUIDE FM, Kota Malang – Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang, Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang masih belum sepenuhnya padam. Hingga Kamis (22/10) pukul 21.30 WIB, petugas masih menemukan 32 titik api di zona old landfill atau area timbunan sampah lama yang berbatasan langsung dengan Desa Jedong, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Malang, Pandu Rizki Darmawan mengatakan proses pemadaman masih terus dilakukan karena api tersembunyi (hidden fire) masih berpotensi menyala di bawah tumpukan sampah.
Menurut Pandu, kondisi tersebut membuat pemadaman kebakaran di TPA tidak bisa disamakan dengan kebakaran bangunan. Api yang terlihat di permukaan belum tentu menandakan seluruh titik api di bawah timbunan telah padam.
“Memang titik apinya di atas padam, namun asapnya masih terus keluar. Nah, ini dikhawatirkan dengan kondisi yang saat ini panas, kemudian angin yang terus berembus, akan muncul titik-titik api baru,” ujarnya, kamis (22/10/26) Malam.
Ia menjelaskan, petugas harus memastikan air pemadaman menjangkau bagian dalam timbunan sampah. Kedalaman titik api yang tersembunyi tidak dapat diketahui secara pasti sehingga penyemprotan di permukaan saja dinilai belum cukup.
Pandu mengungkapkan, sebaran kebakaran saat ini masih terbagi dalam tiga zona, yakni barat, tengah, dan timur. Titik awal kebakaran berada di zona barat, tepatnya di area yang berbatasan dengan Desa Jedong, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.
Sementara itu, perambatan asap telah meluas ke zona timur akibat embusan angin yang cukup kencang. Kondisi cuaca menjadi salah satu kendala utama yang harus dihadapi petugas dalam proses pemadaman.
“Untuk kendala, tentu kami harus berpacu dengan angin yang ada, dengan cuaca yang ada saat ini,” kata Pandu.
Meski demikian, ia menyebut jumlah titik api mengalami penurunan. Secara perkiraan, kondisi kebakaran telah berkurang sekitar 30 persen dibandingkan kondisi awal. Namun, petugas masih berfokus menuntaskan titik api tersembunyi di bawah timbunan sampah.
Keberadaan hidden fire tidak terlepas dari karakteristik material sampah yang menumpuk di lokasi. Campuran sampah, termasuk plastik dan material lain yang mudah terbakar, memungkinkan api bertahan di bagian dalam meski permukaan terlihat sudah padam.
Pandu menjelaskan, ketika bagian atas timbunan terbakar, material di bawahnya masih dapat menyimpan panas dan menjadi sumber penyalaan kembali. Karena itu, proses pemadaman membutuhkan penanganan khusus untuk memastikan tidak ada bara api yang tertinggal.
Risiko munculnya titik api baru semakin besar ketika cuaca panas dan angin terus berembus. Situasi ini membuat petugas tidak cukup hanya memadamkan api yang terlihat, tetapi juga harus memastikan sumber panas di dalam timbunan benar-benar terkendali.
Terkait target penyelesaian, Pandu mengatakan petugas berupaya menuntaskan pemadaman secepat mungkin untuk menekan dampak terhadap masyarakat dan aktivitas di sekitar lokasi.
Ia mengakui, penanganan kebakaran serupa membutuhkan waktu cukup panjang. Pada kejadian terakhir pada 2022, petugas memerlukan waktu sekitar dua minggu untuk memastikan kebakaran benar-benar padam.
Meski demikian, Pandu optimistis penanganan kali ini dapat diselesaikan lebih cepat. Menurutnya, dukungan dari berbagai pihak saat ini lebih banyak dibandingkan pada kejadian sebelumnya.
“Jadi, kita optimistis bisa kita selesaikan lebih cepat daripada peristiwa yang lalu,” tandasnya.





