Defense Mechanism, Melindungi atau Menghambat Diri?

CITY GUIDE FM, CONSOLOGI – Defense mechanism adalah cara pertahanan diri alami yang muncul saat seseorang mengalami situasi yang tidak menyenangkan, masalah berat atau tekanan emosional. Dosen Psikolog Universitas Merdeka Malang M Untung Manara PhD mengatakan berdasarkan teori psikoanalisis, mekanisme pertahanan ini bertujuan untuk meredakan ketidaknyamanan, rasa bersalah atau gejolak emosi sementara.
Bentuk defense mechanism ada beberapa macam. Antara lain penyangkalan (denial), rasionalisasi atau mencari alasan logis, menekan emosi (represi), mengalihkan emosi ke orang lain (displacement), regresi dan sublimasi. Berbagai bentuk pertahanan diri ini muncul tergantung pada konteks atau situasi.
“Terkadang kita menggunakan yang bentuk rasionalisasi, kadang kita denial atau menganggap masalah itu tidak ada. Mungkin juga kita menggunakan bentuk represi, maksudnya menekan masalah itu ke dalam diri dan tidak mau mengungkapkannya. Kalau pengalihan itu misalnya kita marah sama seseorang, tapi dia punya kedudukan di kantor misalnya. Saat pulang ke rumah kita mengalihkan emosi dengan orang di rumah,” jelasnya.
Baca juga:
Melawan Stigma dan Mendukung Pemulihan ODGJ
Bentuk defense berupa rasionalisasi, misalnya saat seseorang mendapat teguran karena pekerjaannya bermasalah. Tapi bukannya minta maaf atau mengevaluasi diri, ia malah menyalahkan sistem atau orang lain. Akibatnya, ketika menghadapi masalah, orang tersebut otomatis mencari pembenaran diri, dari pada memperbaiki diri.
Untung mengatakan pada dasarnya defense mechanism itu bukan sesuatu yang buruk. Pertahanan ini bisa menjadi pertolongan pertama untuk meredakan gejolak emosi atau saat menghadapi tekanan yang berat. Dalam jangka pendek, menyangkal akan membantu seseorang mengambil jeda dan menenangkan diri.
Tapi, mekanisme pertahanan diri akan jadi masalah jika menggunakannya untuk menghadapi masalah. Kata Untung, orang yang terlalu sering menggunakan defense mechanism akan kurang fokus pada penyelesaian masalah. Fokusnya akan berubah dari apa masalahnya dan bagaimana menyelesaikannya, menjadi bagaimana mengurangi rasa tidak nyaman ini atau membenarkan diri sendiri.
“Salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri yaitu ketika kita menghindar membicarakan masalah tertentu. Dalam jangka panjang tentu tidak baik. Yang namanya problem itu harus dibicarakan, harus diselesaikan. Ya, memang terkadang tidak nyaman,” lanjutnya.
Defense mechanism yang berlebihan justru akan merusak komunikasi dan kepercayaan. Untung mengingatkan tidak membicarakan masalah bukan berarti masalah telah selesai.
Simak di sini:




