Cerita Nurochman Selama Haji, Mulai Cuaca Ekstrem dan Fasilitas

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Usai menyelesaikan ibadah haji, Rumah Jabatan Wali Kota Batu penuh dengan ratusan warga yang hendak bersilaturahmi, pada Minggu (7/6/2026) malam. Pada kesempatan itu, Nurochman berbagi pengalamannya selama haji.
Nurochman merupakan salah satu dari 226 jemaah haji reguler asal Kota Batu yang tergabung dalam Kloter 4. Ia menegaskan bahwa selama berada di Arab Saudi tidak menerima perlakuan khusus maupun fasilitas eksklusif sebagai kepala daerah.
“Yang namanya haji reguler ya tidak ada yang khusus, wong umum ya. Jadi enggak ada yang khusus. Kamarnya ya sesuai yang lain. Ada yang empat (orang) satu kamar, ada yang lima orang, berbagi kamar mandi dan seterusnya,” kata Nurochman.
Menurutnya, keputusan menggunakan jalur haji reguler memang telah direncanakan sejak awal pendaftaran. Langkah tersebut dipilih agar dirinya dapat menjalani seluruh rangkaian ibadah bersama masyarakat tanpa perbedaan layanan.
Selama 14 tahun lamanya sejak mendaftar pada November 2012, ia menunggu antriannya tiba untuk berangkat haji. Saat itu, Nurochman memanfaatkan Program Dana Talangan Haji dengan setoran awal sebesar Rp5 juta, sebelum skema tersebut dihentikan pemerintah. Pelunasan biaya haji kemudian ia lakukan secara bertahap melalui cicilan bulanan.
Lalu selama melaksanakan ibadah haji, jemaah haji Kota Batu harus bertahan di Bawah cuaca ekstrem Mekah. Suhu udara bahkan mencapai 47 derajat Celsius, jauh dengan kondisi suhu di Kota Batu yang saat ini memasuki musim bediding.
Namun, Nurochman melihat sebagian besar jemaah Kota Batu mampu beradaptasi dan menyelesaikan seluruh rangkaian rukun maupun wajib haji dengan baik. Di sisi lain, pria berkacamata itu memberikan catatan pada fasilitas maktab di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
Khususnya mengenai kapasitas tenda dan ruang bagi jemaah. Menurutnya, kondisi di Mina relatif lebih padat daripada di Arafah sehingga ruang gerak jemaah menjadi lebih terbatas.
“Kalau di Armuzna itu di tenda besar, satu tenda untuk satu kloter sekitar 400 orang dengan AC blower. Kemudian di Mina juga demikian, kondisinya sempit, lebih sempit dari Arafah. Sehingga fasilitas yang disiapkan memang belum maksimal,” jelasnya.
Namun, ia bersyukur saat melakukan prosesi lempar jumroh di Jamarat relatif leluasa bagi jemaah. Di akhir ceritanya, ia mengapresiasi dukungan teknis dari berbagai pihak serta doa masyarakat Kota Batu yang terus mengalir selama pelaksanaan ibadah haji berlangsung.
Editor: Intan Refa




