BPBD Kota Batu Susun Rencana Siaga Karhutla, Fokus ke Lereng Arjuno Welirang

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – BPBD Kota Batu mulai mengantisipasi dampak domino anomali iklim El Nino yang diprediksi memicu kemarau panjang. Langkah taktisnya adalah menyusun Dokumen Rencana Kontinjensi serta mengajukan penetapan status Siaga Darurat Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kota Batu untuk rentang waktu 5-7 bulan ke depan.
Penyusunan dokumen ini krusial sebab ancaman karhutla selalu mengintai kawasan pegunungan yang mengelilingi kota wisata ini setiap kali musim kemarau ekstrem tiba. Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho menjelaskan bahwa draf dokumen tersebut tengah dimatangkan lalu dilegalkan oleh wali kota.
“Sebagai acuan kami dalam rangka darurat kekeringan dan kebakaran lahan di Kota Batu. Yang menjadi pedoman juga teman-teman Tahura, teman BPBD, dan polisi TNI untuk lakukan tindakan-tindakan yang sifatnya adalah pemantauan dan monitoring di wilayah-wilayah rawan bencana,” lanjutnya.
Penyusunan dokumen ini berdasarkan pada kajian risiko bencana yang menempatkan karhutla sebagai salah satu ancaman tahunan tertinggi di Kota Batu. Dengan payung hukum yang jelas sejak dini, maka mobilisasi personel, anggaran, dan peralatan penanganan bencana dapat turun secara cepat tanpa terhambat birokrasi.
Lereng Arjuno Welirang kembali jadi zona merah
Memasuki awal musim kemarau tahun 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu memperketat pengawasan di kawasan dataran tinggi. Berdasarkan evaluasi data kebencanaan pada tahun-tahun sebelumnya, kawasan lereng Gunung Arjuno-Welirang kembali ditetapkan sebagai zona merah. Di mana tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terpantau paling tinggi.
Langkah pemetaan ini berkaca pada catatan historis bencana yang melanda wilayah Kota Batu. Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho mencatat fluktuasi jumlah titik api cukup tinggi kemarau panjang sebelumnya. Khususnya pada tahun 2019 dan 2023.
“Kalau kemarin, kalau tahun kemarin kan sejarahnya ada sekitar 19 sama 23 titik hotspot,” kata Gatot Noegroho.
Gatot menambahkan bahwa sebaran titik api tersebut tidak merata di seluruh wilayah. Melainkan terkonsentrasi pada kluster-kluster hutan tertentu yang memiliki karakteristik vegetasi kering dan akses geografis yang sulit terjangkau tim pemadam.
“Iya, kalau yang paling banyak yang tahun 2019 sama 2023 itu ada di daerah Lereng Arjuno-Welirang,” jelasnya.
Selain faktor alam, wilayah lereng Arjuno-Welirang menjadi langganan kebakaran karena intensitas aktivitas manusia di dalam hutan tersebut tergolong tinggi. Baik untuk jalur pendakian maupun aktivitas ekonomi musiman.
Evaluasi berbasis data spasial ini menjadi dasar BPBD untuk menempatkan pos pemantauan portabel. Serta menentukan rute patroli gabungan bersama Tahura Raden Soerjo dan Perhutani untuk menekan potensi kembalinya titik hotspot tahun ini.
Editor: Intan Refa




