Wisata Kota Batu di Tengah Pelemahan Rupiah, Peluang atau Tantangan?

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Pelemahan rupiah sudah pasti akan memberikan dampak pada sektor pariwisata. Di Kota Batu, pelaku usaha di sektor wisata ini juga merasakan kekhawatiran jika ini tidak menunjukkan perbaikan.
Ketua PHRI Kota Batu Sujud Hariadi mengungkapkan bahwa kondisi ini menimbulkan efek domino yang luar biasa. Daya beli industri pariwisata akan semakin tertekan dengan terus meningkatnya harga barang impor. Mulai dari biaya akomodasi, transportasi dan bahan baku makanan.
“Produk food and beverages (FnB) terutama dari hotel itu tetap menggunakan LPG dan CNG yang juga diprediksi akan naik. Sebagian saus, bumbu itu pun masih ada yang impor. Kebutuhan kita sebagian itu masih impor sehingga itu akan menaikkan cost (beban) kita,” jelas Sujud.
Di sisi lain, pelemahan ini juga memicu penurunan daya beli masyarakat. Sehingga umumnya masyarakat memilih untuk berwisata di destinasi yang murah. Kata Sujud pariwisata di Kota Batu kini sedang bersaing ketat dengan wisata pantai dan wisata terjangkau lainnya.
Tantangan ini juga sekaligus jadi peluang bagi Kota Batu untuk melakukan integrasi wisata berkonsep one stop holiday. Apalagi sumber daya wisata di Kota Batu bisa dikatakan relatif lengkap meliputi wisata edukasi, wisata alam, wisata buatan, wisata desa hingga sentra UMKM.
Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Kota Batu Farida Anifah juga melihat bahwa keberagaman destinasi wisata di Kota Batu bisa menjadi peluang. Saat daya beli menurun, maka masyarakat akan lebih selektif dalam mengeluarkan uangnya untuk rekreasi atau berwisata.
“Tantangan lain adalah persaingan antar destinasi wisata. Jadi masing-masing destinasi berlomba-lomba menghadirkan promo dan inovasi. Tapi kami berharap destinasi-destinasi itu bisa bekerja sama atau berkolaborasi menghadirkan paket bundling,” terangnya.
Dengan melemahnya nilai rupiah, masyarakat akan memilih wisata domestik. Maka ini bisa menjadi peluang Kota Batu untuk berkolaborasi memperkuat sektor pariwisata.
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Pariwisata Aang Afandi berpendapat pelaku usaha pariwisata di Kota Batu harus jeli melihat karakteristik segmen wisatawan. Wisatawan yang berpenghasilan tinggi yang biasanya mampu berlibur ke luar negeri, bisa saja berbelanja dalam jumlah besar di Kota Batu.
Asalkan penawaran produk dan layanannya sesuai dengan uang yang mereka keluarkan.
“Kelompok kedua adalah yang pendapatannya tidak terlalu tinggi tetapi tetap butuh berwisata. Mereka akan mengelola pengeluaran, dari yang bermalam jadi tidak. Dari makanan ya, anggarannya mungkin akan turun dan seterusnya,” jelas Aang.
Ia mengingatkan perlunya ada paket wisata yang kompetitif. Salah satu caranya adalah kolaborasi antara moda transportasi dan hotel agar biaya perjalanan lebih terjangkau dan menarik pasar domestik lebih luas. (WL)
Simak selengkapnya di sini:




