Info Guide

Musim Kemarau Tahun Ini Berpotensi Lebih Kering dan Lama

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Jawa Timur, BMKG Karangploso Anung Suprayitno. (Foto: Heri Prasetyo)
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Jawa Timur, BMKG Karangploso Anung Suprayitno. (Foto: Heri Prasetyo)

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Fenomena El Nino berpotensi membuat musim kemarau di Jawa Timur pada 2026 berlangsung lebih kering dan lebih panjang. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Jawa Timur, BMKG Karangploso Anung Suprayitno mengatakan El Nino yang muncul setelah pertengahan tahun, memperkuat intensitas musim kemarau.

“Secara klimatologis, El Nino itu mentrigger musim kemarau menjadi lebih kering,” kata Anung, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, tanpa El Nino sekalipun Jawa Timur tetap akan memasuki musim kemarau karena merupakan siklus tahunan. Namun, kehadiran fenomena tersebut semakin memperkuat intensitas kemarau, bahkan berpotensi memperpanjang durasinya.

“Kalau kemunculannya setelah pertengahan tahun, bisa jadi nanti imbasnya adalah awal musim hujannya mundur,” ujarnya.

Meski demikian, Anung mengingatkan masyarakat tidak serta-merta mengartikan kemarau sebagai kondisi tanpa hujan sama sekali. Dinamika atmosfer tetap memungkinkan hujan terjadi di sejumlah wilayah meskipun secara umum Jawa Timur berada dalam periode kemarau.

Sejumlah fenomena atmosfer, seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Rossby, dapat memengaruhi kondisi cuaca dalam skala mingguan.

“Bukan berarti di tengah-tengah musim kemarau itu tidak ada hujan. Bisa jadi ada hujan karena nanti ada siklus MJO, ada gelombang Rossby yang skalanya mingguan,” katanya.

Menurut Anung, fenomena tersebut merupakan gangguan cuaca berskala menengah yang dapat membuat pola musim tidak berlangsung secara monoton. Pada musim hujan, misalnya, tetap dapat terjadi jeda hujan. Sebaliknya, hujan juga masih mungkin muncul ketika musim kemarau berlangsung.

Dampak El Nino secara umum dapat dirasakan di wilayah Jawa Timur yang berada di selatan khatulistiwa. Beberapa kawasan di sekitar sisi selatan Gunung Semeru dan Gunung Raung, misalnya memiliki karakter klimatologis yang berbeda.

“Daerah Semeru sisi selatan, Gunung Raung dan sebagainya itu dulu-dulu dikenal sebagai daerah non-zona musim. Artinya, secara klimatologis dari data panjangnya, daerah itu hampir sepanjang tahun terjadi hujan,” ujar Anung.

Potensi kemarau yang lebih kering juga membuat pengelolaan ketersediaan air menjadi perhatian. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah operasi modifikasi cuaca, terutama untuk meningkatkan pasokan air ke waduk.

Anung mengatakan modifikasi cuaca di Jawa Timur lebih fokus pada upaya pengisian waduk. Sebab, pertanian Jawa Timur cukup rentan terhadap kekeringan.

Editor: Intan Refa

Heri Prasetyo

Jurnalis City Guide 911 FM yang berfokus pada liputan berita seputar Kota Malang, mencakup isu pemerintahan, sosial, ekonomi, dan peristiwa terkini di wilayah Malang Raya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Visual Radio

x