Reborn: Buka-bukaan Strategi Manajemen Arema FC

CITY GUIDE FM, GALERI – Manajemen Arema FC menetapkan tahun ini sebagai momen titik balik kebangkitan Singo Edan di jagat sepak bola. Dalam kunjungannya ke Radio City Guide FM, Manajer Operasional Sudarmaji beserta Supervisor Bisnis dan Komersial Arema FC Irma Prianti membeberkan transformasi manajemen klub.
Usai pulih dari sakitnya selama dua tahun terakhir, Manajer Operasional Sudarmaji akan kembali memusatkan perhatiannya mengembalikan kejayaan Arema FC. Menurutnya, Arema saat ini sudah banyak berevolusi, dalam artian banyak yang berubah. Baik dari pengelolaan organisasi, holdingnya maupun SDM-nya.
“Sebenarnya mimpi kita adalah holding (perusahaan induk) itu membawahi subdivisi. Divisi itu nanti dikelola oleh badan hukum. Holdingnya PT AABBI (Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia), sub di bawahnya itu ada beberapa holding yang bisa menghasilkan beberapa potensi industri,” terangnya.
Simak di sini:
Artinya, ia ingin PT AABBI menjadi industri yang fleksibel dengan diversifikasi bisnis di dalamnya. Tentu mengedepankan kultur Arema, dengan klub sepak bola sebagai perekatnya. Kata Sudarmaji, Arema tidak lagi sekadar iconic city, tapi juga jati diri lewat slogannya yang terkenal “Salam Satu Jiwa”.
“Bagaimana kita menghadapi sebuah ujian bertubi-tubi, tapi Arema mampu tangguh. Karena itu tadi inspirasinya adalah kultur tadi. Coba kalau enggak diperkuat kultur tadi mungkin Arema tinggal nama. Tapi sampai hari ini begitu luar biasa,” lanjutnya.
Sudarmaji melihat komposisi tim Singo Edan saat ini sudah di atas rata-rata. Tapi, sepak bola itu tidak hanya bergantung pada skill kesebelasan. Strategi, stamina, attitude dan yang paling penting adalah kehadiran pemain ke-12 yaitu Aremania.
“Itulah kenapa FIFA menyampaikan bahwa pertandingan yang luar biasa itu adalah klub yang bermain di depan pendukungnya, suporternya. Jadi sebenarnya sudah bukan zamannya lagi kalau ada pertandingan tanpa penonton atau penonton dihalang-halangi untuk tidak bisa mendukung klubnya. Sejatinya filosofi sepak bola itu adalah tim yang bermain di depan suporternya. Karena itu kita sangat berharap bahwa Aremania, ayolah ini momentum untuk bisa hadir ke Stadion Kanjuruhan untuk mendukung,” harap Sudarmaji.
Baca juga:
39 Tahun, Satu Jiwa Jaga Arema
Selaras dengan Sudarmaji, Supervisor Bisnis dan Komersial Arema FC Irma Prianti mengungkapkan tahun ini Arema seperti terlahir kembali (reborn). Tentu dengan membawa pendekatan baru untuk memperkuat finansial dan pengelolaan klub yang lebih profesional.
“Dari sisi klub yang pasti kami berkembang, improve. Kami seperti mau reborn gitu ya. Karena kemarin kami baru balik lagi ke Stadion Kanjuruhan tahun 2024. Kemudian dari yang tadinya kita belum ke mana-mana, nomaden, kami sudah mulai bangkit lagi,” kata Irma.
Ada sejumlah transformasi manajemen, berkaca dari pengalaman buruk di masa lampau. Pertama soal keamanan dan kenyamanan stadion yang fokus pada keselamatan penonton. Sistem keamanan stadion terbagi menjadi tiga zona yaitu hijau, kuning dan merah.
Lalu pembelian tiket beralih ke sistem online dan telah mencakup asuransi pertandingan dan fasilitas tambahan, seperti bundling makanan dan minuman.
“So, dengan sistem yang sudah kami bangun ini, kami ingin agar orang-orang nyaman, karena mungkin masih ada traumatik di sebelumnya. Again, kita baru kembali tahun 2025. Pada saat ada kejadian itu (Tragedi Kanjuruhan), memang kami juga kehilangan banyak partner. Kami tidak bisa menyalahkan karena partner kami juga put some trust in us. Mereka juga harus menjaga image mereka sendiri kan gitu. Jadi kami berterima kasih untuk partner-partner yang stay sampai dengan akhir,” ungkapnya.
Kini, sejumlah brand telah kembali mendekat dan melekat di jersey Arema FC. Seperti BTN, PT Tapin Coal Terminal (TCT), RANS, Lapak Gaming dan RS Hermina. Ada juga mitra lokal yang ikut mendukung, walaupun logonya tidak melekat di jersey. Pihaknya juga tetap membuka peluang kemitraan dengan pebisnis lokal yang lain.
Satu hal yang paling penting adalah manajemen Arema hingga saat ini tetap konsisten mencetak pemain lokal lewat Akademi Arema, dari U-10 hingga U-20. Pada musim ini, telah ada 4 pemain jebolan Akademi Arema yang masuk tim utama. Selain investasi pemain lokal, ada juga Arema Goes to School untuk mengedukasi Aremania muda seputar sepak bola dan suporter.





