September Hitam, Menolak Lupa Pelanggaran HAM di Indonesia

CITY GUIDE FM, KOTA BATU — Bertepatan dengan peringatan 22 tahun meninggalnya aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib, puluhan pemuda turut membawa sejumlah poster berisi kritik terhadap penegakan HAM di Indonesia. Beberapa di antaranya bertuliskan “Akbar Alamsyah Dibunuh Negara”, “Tolak Gelar Pahlawan Soeharto”, “September Hitam”, dan “Reformasi Dikorupsi”.
Aksi ini membawa tema “September Hitam”, yang merujuk pada sejumlah peristiwa kekerasan dan pelanggaran HAM yang terjadi pada September atau berdekatan dengan bulan tersebut. Mulai dari kasus Munir, kematian Pendeta Yeremia, pembunuhan Salim Kancil, Tragedi Semanggi, hingga peristiwa 1965.
“Terkhusus di Malang, pada akhir September menjelang awal Oktober 2022, kita punya tragedi kemanusiaan yang amat besar, yaitu Tragedi Kanjuruhan,” beber Koordinator aksi, Eko.
Baca juga:
22 Tahun Meninggalnya Munir, Sang Kakak Ungkap Sisi Lain Adiknya
Menurut Eko, isu penuntasan kasus HAM tersebut juga menjadi alasan massa membawa persoalan Tragedi Kanjuruhan dalam aksi peringatan Munir di Kota Batu.
“Ini adalah bentuk protes kepada negara yang sampai sekarang tidak memberikan atensi berarti pada pengusutan kasus kematian Munir. Kasus ini belum selesai, karena dalang utama dari pembunuhan Munir sampai sekarang belum terbuka,” tegas Eko.
Selain proses hukum kasus Munir, pihaknya juga mempertanyakan keberadaan dokumen Tim Pencari Fakta (TPF) kasus Munir. Ia mendesak pemerintah memberikan kepastian mengenai keberadaan serta status dokumen yang krusial dalam pengungkapan kasus tersebut.
Baca juga:
September Hitam, Bulan Kelam Dalam Sejarah HAM di Indonesia
Massa juga menyuarakan agar mekanisme hukum terkait dugaan pelanggaran HAM masa lalu tetap dibuka. Ada sejumlah kasus perlu terus didorong agar mendapatkan penyelesaian dan keadilan bagi korban maupun keluarga korban.
“Harapannya, aksi dan perlawanan ini tetap terus berlanjut. Agar semua yang dicita-citakan oleh Cak Munir, dan teman-teman yang sudah mendahului kita dalam berjuang, tetap menjadi landasan utama dalam perjuangan kerakyatan,” pungkasnya.
Massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bangkit Bersama ini melibatkan sejumlah kelompok. Seperti Aliansi Mahasiswa Resah Brawijaya, BEM Malang Raya, Komite Kamisan, serta sejumlah organisasi di Malang.
Editor: Intan Refa





