39 Tahun, Satu Jiwa Jaga Arema

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Tahun ini Arema FC berusia 39 tahun. Setelah lepas dari Tragedi Kanjuruhan empat tahun lalu, momen ini menjadi refleksi pembenahan di tubuh klub kebanggaan Malang ini. Head of Public Relation and Marcom Arema FC Munif Bagaskara Wakid mengatakan meski telah berusia 39 tahu, manajemen telah melakukan reset total pascatragedi sehingga seolah klub ini baru berusia 4 tahun.
Munif mengatakan reformasi manajemen Arema tidak bisa berjalan sendiri. Mindset suporter atau Aremania juga harus ikut berubah. Artinya, baik manajemen dan suporter saling memperbaiki diri dan berjalan beriringan.
“Klubnya sudah berbenah. Pendukungnya harus lebih open minded lagi, mindsetnya diperbaiki. Kita bareng-bareng memberikan kritikan yang membangun untuk klub ini. Karena tanpa suporter kita juga tidak bisa apa-apa. Jadi teruslah membersamai, kami juga akan mendengarkan aspirasi dari teman-teman,” kata Munif.
Baca juga:
Blues Spirit Sesi 7: Siapa Aremania?
Hal ini tidak lepas dari kegelisahan publik terhadap sejumlah perilaku Aremania yang cenderung anarkis seperti merusak markas Arema atau memusuhi suporter lawan. Terutama ketika performa kesebelasan Singo Edan tidak sesuai harapan mereka.
Munif mengatakan ada pembinaan Arema Goes to School untuk memberikan edukasi kepada Aremania dan Aremanita muda atau bahasa lokalnya Arema Licek (Arema Kecil). Mulai dari makna menjadi suporter, fanatisme yang positif serta batas dukungan terhadap sepak bola di dalam dan luar lapangan.
“Terakhir kita bikin di SMA Katolik, Santa Maria, ke depan kita akan menggaet SD dan SMP juga biar mereka mengerti dan memahami makna suporter itu. Kita ingin memberikan edukasi yang ke depannya semua jauh lebih positif. Fanatisme yang positif mendukung sepak bola itu tidak apa-apa. Selama in terms of football aja, di luar stadion mau siapapun suporter itu saudara kita sesama manusia,” lanjutnya.
Baca juga:
Aremania Ngamuk Usai Arema FC Kalah dari Persita Tangerang
Selanjutnya, Munif mengatakan akan berembuk dengan Presidium Arema UTAS berkaitan dengan pendidikan dan pembinaan suporter muda. Sementara itu Pengamat Olahraga Dr Faizal Kurniawan SPd MSi memandang usia 39 tahun sudah bukan lagi saatnya merayakan masa lalu. Arema harus menentukan seperti apa identitas dan masa depannya.
“Kemarin dalam makna HUT ke 39 Arema ada semangat The Greatness terdiri dari 3 poin. Pertama proses, komitmen klub dan penguatan identitas. Nah, porsi Aremania itu ada di poin ketiga yaitu penguatan identitas. Jadi bagaimana kita mempererat kekeluargaan, solidaritas di antara sesama Aremania dan dengan suporter lain. Inilah yang kita harus banyak belajar ya,” jelas Faizal.
Lalu menanggapi pembinaan Aremania, Faizal melontarkan ide pengembangan aplikasi Aremania UTAS. Di dalamnya, selain jadi sarana keanggotaan, juga bisa menjadi media penyebaran informasi, edukasi suporter, sosialisasi, pencegahan ujaran kebencian di media sosial, koordinasi saat pertandingan hingga sarana komunikasi antara manajemen dan Presidium Arema UTAS.
Di sisi lain, ia juga merindukan kreativitas koreografi Arema yang dulu pernah merajai stadion. Bahkan julukan Raja Koreo di masa lalu kini mulai perlahan luntur.
“Mari kita hidupkan lagi kreativitas ini,” pungkasnya. (WL)
Simak di sini:





