
CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Prevalensi stunting di Kota Malang pada tahun 2025 tercatat sebesar 8,48 persen. Prosentase tersebut turun menjadi 8,1 persen pada awal tahun 2026 dari sekitar 38 ribu balita yang terdata.
Angka tersebut berasal dari hasil bulan timbang pemantauan rutin melalui posyandu setiap bulan. Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang dr Husnul Muarif menjelaskan posyandu akan melaporkan hasil pengukuran dan penimbangan balita tersebut melalui sistem Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).
“Setiap bulan posyandu melakukan pengukuran dan penimbangan balita di wilayahnya, lalu dilaporkan ke Dinas Kesehatan dan diteruskan ke provinsi melalui aplikasi,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Ia menegaskan fokus utama penanganan stunting di Kota Malang adalah anak usia di bawah dua tahun. Kelompok usia ini menjadi prioritas karena intervensinya paling efektif dalam mencegah dampak jangka panjang.
Berbagai program intervensi antara lain program pemberian makanan tambahan (PMT), dukungan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) untuk stunting, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Semua program ini saling mendukung untuk menurunkan angka stunting. Tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi satu kesatuan intervensi,” jelasnya.
Meski demikian, pihaknya tidak memisahkan dampak masing-masing program secara spesifik. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh terhadap seluruh intervensi yang berjalan.
Husnul juga terus mendorong validitas data melalui kegiatan bulan timbang. Di mana seluruh posyandu harus mampu menjangkau sasaran secara lengkap dan menghasilkan data yang akurat.
“Yang terpenting adalah cakupan penimbangan lengkap dan hasil pengukuran valid, sehingga kita bisa melihat kondisi riil di lapangan,” katanya.
Editor: Intan Refa




