Penyakit Hewan Kurban Kadang Baru Diketahui Setelah Disembelih

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu mengakui masih terkendala dalam mendeteksi sejumlah penyakit pada hewan kurban. Sebab, beberapa jenis penyakit hanya dapat diketahui setelah hewan kurban disembelih atau melalui pemeriksaan post mortem.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu Sri Cahyani Rahayu menjelaskan pemeriksaan post mortem adalah mengecek organ dalam hewan setelah proses penyembelihan. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan kelayakan daging sebelum mendistribusikannya kepada masyarakat.
“Harus cek organ. Jadi makanya itu namanya pemeriksaan post mortem sesudah melakukan pemotongan. Kalau sebelum pemotongan itu Namanya pemeriksaan ante mortem,” ujar Sri Cahyani.
Sri menegaskan pihaknya telah melakukan langkah pencegahan melalui pemeriksaan kesehatan serta pemberian sertifikat pada hewan kurban yang layak. Namun, pemeriksaan ante mortem ini memiliki kekurangan karena tidak semua penyakit terlihat saat hewan masih hidup.
Untuk memperkuat pengawasan, pihaknya menerjunkan 300 personel pemantau yang terdiri dari petugas dinas dan akademisi. Tim tersebut menyebar ke berbagai lokasi penyembelihan untuk memastikan seluruh hewan kurban memenuhi standar kelayakan konsumsi.
Pengawasannya meliputi pemeriksaan ante mortem dan post mortem. Sri menambahkan penyakit yang baru tampak saat pemeriksaan post mortem memang pencegahannya tidak bisa melalui vaksinasi. Salah satunya adalah penyakit cacing hati.
Berdasarkan Buku Saku Penjaminan Kesehatan Hewan Kurban dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, pemeriksaan post mortem menginspeksi organ dalam seperti hati, paru-paru, limpa, ginjal, dan jantung.
Jika terdeteksi penyakit cacing hati dan hanya ditemukan pada sebagian saluran hati, bagian yang rusak dapat disisihkan. Namun jika organ hati telah mengalami kerusakan parah atau sirosis, seluruh organ hati wajib dimusnahkan meski daging utamanya masih aman konsumsi.
Selain itu ada penyakit pneumonia atau radang paru. Tandanya adalah paru-paru bernanah, membengkak atau mengeras akibat infeksi bakteri maupun virus. Organ paru yang terinfeksi tidak boleh dibagikan kepada masyarakat.
Penyakit lain yang perlu diwaspadai adalah cysticercosis atau kista cacing pita. Penyakit ini tandanya adalah ada larva cacing pita Taenia saginata di jaringan tubuh hewan. Jika infeksi tampak masif di jaringan otot, seluruh karkas atau daging beserta organ, maka harus dimusnahkan karena berpotensi menular ke manusia.
Apabila terdapat tuberkulosis hewan (Bovine tuberculosis) yang ciri-cirinya adalah munculnya bungkul berisi nanah mengering menyerupai keju. Jika infeksi hanya ada di satu organ, organ tersebut dapat dibuang. Namun apabila telah menyebar ke kelenjar getah bening di seluruh tubuh, seluruh bagian sapi harus dimusnahkan.
Selain penyakit, pemeriksaan post mortem juga dapat menemukan kelainan teknis seperti aspirasi darah. Kondisi ini terjadi ketika darah terhisap kembali ke saluran pernapasan saat hewan sekarat. Paru-paru biasanya berubah warna menjadi merah pekat dan mengalami kerusakan sehingga tidak layak konsumsi.
Editor: Intan Refa




