Kebakaran Bromo Meluas, Angin Kencang Hambat Pemadaman

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih menghadapi embusan angin yang bertiup kencang. Kondisi ini sering kali memaksa armada udara menghentikan operasi pemadaman. Akibatnya, api kembali menyebar.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan pihaknya telah menempuh berbagai upaya untuk mengendalikan kebakaran. Mulai dari armada milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur, sampai perbantuan dari Lanud Abdulrachman Saleh dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan sejumlah armada tambahan.
“Ketika anginnya kencang, armada-armada ini harus ditarik, maka kemudian perluasan area karhutlanya tidak bisa dihindarkan,” kata Khofifah saat menghadiri Hari Veteran Nasional di Pendopo Kabupaten Malang, Rabu (12/8/2026).
Baca juga:
Dampak Wisata Imbas Kebakaran Bromo
Kondisi cuaca sangat menentukan penanganan di kawasan Bromo. Saat angin menguat, api dapat berpindah melampaui area yang sebelumnya telah dibasahi. Bahkan saat cuaca buruk, seperti angin kencang atau berkabut, dua helikopter untuk membantu pemadaman sempat tidak dapat kembali ke Lanud Abdulrachman Saleh.
Kedua armada tersebut akhirnya bermalam di sekitar kawasan Ranu Pani dan baru dapat kembali menjalankan operasi pada pagi hari setelah cuaca membaik. Keputusan menempatkan helikopter di sana untuk memperpendek waktu tempuh menuju lokasi kebakaran maupun mengambil air. Di mana sebelumnya, helikopter mengambil air di di kawasan Batu dan Kaliandra.
Selain helikopter, operasi pemadaman juga memanfaatkan drone. Namun, kemampuan drone membawa air jauh lebih terbatas, yaitu sekitar 100-150 liter.
Baca juga:
Refleksi, Kenapa Bencana Alam Makin Sering Terjadi?
“Kalau drone biasanya pembasahan, tapi kalau heli bisa pemadaman,” ujarnya.
Keterbatasan armada membuat setiap unit harus dimanfaatkan secara optimal. Karena itu, pemerintah berupaya menuntaskan titik api di Bromo secepat mungkin agar dukungan udara dapat beralih ke wilayah lain yang membutuhkan.
“Semua berikhtiar maksimal. Manggala Agni juga luar biasa, relawan juga luar biasa. Tapi alam berbicara di luar dari apa yang diharapkan,” ujar Khofifah.
Berdasarkan laporan terakhir yang ia terima, titik panas saat ini relatif sudah dapat dilokalisasi. Harapannya proses pemadaman bisa segera segera tuntas.
Editor: Intan Refa





