Catatan Suhu dari Surabaya: Ketika Panas Menguji Kesabaran

CITY GUIDE FM, SURABAYA – Siang ini, Rabu, 21 Oktober 2026, suhu udara Surabaya sekitar 37 derajat Celsius. Matahari terasa begitu terik dan menyengat. Berada di jalanan membuat tubuh cepat berkeringat dan lelah.
Mungkin keadaan serupa juga dirasakan warga di kota-kota lain di Jawa. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa panas tidak hanya memengaruhi tubuh, tetapi juga emosi dan cara kita berkomunikasi?
Menurut BMKG, suhu maksimum di Jawa Timur bahkan mencapai 38 derajat Celsius pada 16 Oktober lalu. Kondisi ini berkaitan dengan posisi semu matahari, minimnya tutupan awan, serta pengaruh fenomena iklim yang memperkuat pemanasan permukaan.
Baca juga:
Krisis Karhutla, Pakar Komunikasi UB Sebut 5 Hal yang Semestinya Dilakukan Pemerintah
BMKG memperkirakan cuaca panas dan relatif kering masih berlangsung di sejumlah wilayah pada 20–26 Oktober, meskipun hujan lokal tetap mungkin terjadi. Mengapa panas terasa begitu menyengat? Selain radiasi matahari langsung, aspal dan beton menyerap serta memancarkan panas.
Kelembapan udara juga dapat menghambat penguapan keringat, sehingga tubuh terasa lebih gerah. Dalam jangka panjang, pemanasan global turut meningkatkan risiko panas ekstrem.
Dalam psikologi lingkungan, suhu tinggi dapat menjadi tekanan lingkungan (environmental stress). Panas berlebihan berisiko menyebabkan dehidrasi, kelelahan, menurunkan konsentrasi, dan meningkatkan rasa mudah tersinggung.
Di sinilah cuaca bersinggungan dengan komunikasi. Ketidaknyamanan tubuh dapat memengaruhi emosi, sementara emosi memengaruhi pilihan kata, nada bicara, dan cara merespons sesama. Kesalahpahaman kecil pun bisa berkembang menjadi pertengkaran.
Bayangkan kemacetan, klakson bersahutan, dan pengendara saling mendahului di tengah terik matahari. Kesabaran mudah diuji, sementara kewaspadaan dapat menurun. Dalam perspektif komunikasi risiko, memahami bahaya harus diikuti perilaku yang lebih aman.
Cukup minum, beristirahat saat kelelahan, dan mengurangi paparan panas. Terutama, jangan mudah terpancing emosi di jalan. Mari lebih sabar, termasuk di rumah, kampus, dan tempat kerja. Tidak semua kesalahan harus dibalas dengan kemarahan.
Biarlah matahari menjalankan hukum alamnya. Jangan biarkan panasnya menghilangkan kesejukan nurani kita. Sebab, ketika udara semakin panas, kehidupan membutuhkan lebih banyak manusia yang menghadirkan keteduhan.
Surabaya, 21 Oktober 2026
Suko Widodo dan ISKI





