
CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mendorong perguruan tinggi rutin melakukan skrining kesehatan mental mahasiswa. Skrining dinilai tak cukup hanya dilakukan saat mahasiswa baru masuk kampus, tetapi perlu dilanjutkan selama masa perkuliahan, terutama ketika mahasiswa memasuki fase rentan seperti penyusunan skripsi.
Hal itu disampaikan Wahyu menyusul kasus percobaan bunuh diri seorang mahasiswa Universitas Brawijaya (UB). Mahasiswa berinisial R (19), asal Jawa Barat, dilaporkan melompat dari lantai enam gedung Fakultas Bio Industri Pertanian dan Kehutanan pada Kamis lalu.
R yang diketahui merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran selamat dari kejadian tersebut. Ia kini menjalani perawatan intensif di RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang akibat mengalami luka, terutama pada bagian kaki.
Wahyu mengatakan pencegahan kasus bunuh diri tidak bisa hanya mengandalkan pengamanan fisik di lokasi yang dianggap rawan, seperti meninggikan jembatan. Menurut dia, langkah tersebut tidak menyentuh akar persoalan yang dialami seseorang.
“Ini bukan salah satu solusi apabila akhirnya jembatan-jembatan ini kita buat tinggi-tinggi. Setelah kita telusuri, ada permasalahan pribadi, keluarga, ataupun permasalahan terkait sekolahannya,” kata Wahyu.
Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran penting karena memiliki sumber daya untuk mendeteksi dan menangani persoalan kesehatan mental mahasiswa. Kampus, kata Wahyu, memiliki tenaga ahli seperti psikolog dan psikiater yang dapat melakukan pendampingan.
“Kami yakin perguruan tinggi lebih tahu untuk mencarikan solusi karena mereka punya tenaga-tenaga ahli, psikiater dan yang lain-lain,” ujarnya.
Menurut Wahyu, peningkatan pengamanan di satu lokasi juga tidak menjamin seseorang mengurungkan niat mengakhiri hidup. Ia mencontohkan, setelah sejumlah jembatan ditinggikan, masih terdapat kasus bunuh diri yang dilakukan dengan cara lain.
Karena itu, pendekatan terhadap mahasiswa dinilai harus dilakukan sejak persoalan mulai terlihat. Kampus diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku mahasiswa yang cenderung tertutup, menarik diri, atau menunjukkan tanda-tanda depresi.
Wahyu juga mendorong agar skrining kesehatan mental dilakukan secara berkala, tidak hanya ketika mahasiswa baru masuk perguruan tinggi.
“Kami berharap skrining ini tidak hanya di awal, tetapi di saat-saat mereka akan berakhir, di saat-saat tengah-tengah. Karena permasalahannya banyak yang menjadi latar belakang kenapa bunuh diri itu terjadi,” katanya.
Ia mengatakan mahasiswa yang menunjukkan tanda-tanda membutuhkan perhatian khusus perlu segera didekati dan didampingi. Sebab, mahasiswa yang sedang menghadapi persoalan psikologis tidak selalu mau terbuka mengenai masalah yang dialaminya.
“Kalau ada mahasiswa yang kelihatannya sudah mencurigakan, sudah harus ada pendampingan yang dilakukan oleh perguruan tinggi. Karena terkadang mereka tertutup, tidak mau terbuka,” ujar Wahyu.
Pemkot Malang sendiri, lanjut Wahyu, telah menyediakan layanan kesehatan jiwa melalui puskesmas. Pemerintah kota juga bekerja sama dengan psikiater dalam penanganan persoalan psikologis di lingkungan sekolah.
Wahyu berharap upaya serupa diperkuat di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, pencegahan harus dilakukan dengan mengenali persoalan mahasiswa lebih awal, bukan hanya mengamankan lokasi yang berpotensi digunakan untuk percobaan bunuh diri.
“Permasalahannya tidak hanya dari luar, tetapi internal, salah satunya permasalahan perkuliahan dan lain-lain,” tandasnya.





