Kepala OJK Malang: Gaya Hidup Konsumtif Rentan Kena Penipuan

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Di hadapan ribuan mahasiswa baru “Kuliah Perdana Mbois” UIN Maulana Malik Ibrahim, Kepala OJK Malang Farid Faletehan mengatakan hingga September 2026, ada sekitar 2 ribu orang melaporkan aduan kantor OJK. Di mana 24 persen di antaranya adalah korban penipuan dengan beragam modus.
Padahal jika melihat data indeks inklusi keuangan untuk kelompok mahasiswa, secara nasional cakupannya sudah 92,7 persen. Artinya, 92 persen mahasiswa Indonesia telah familiar dan mengakses layanan keuangan. Tetapi ada gap yang cukup jauh dengan tingkat literasi keuangan yang mencapai 62,7 persen.
Literasi keuangan yang masih rendah ditambah dengan gaya hidup konsumtif, menjadi celah bagi oknum-oknum untuk melancarkan aksi penipuan. Kata Farid, tantangan mahasiswa saat ini adalah terjebak pinjol ilegal, overconsumerism dan over indebtness serta tidak mempersiapkan dana daruat.
Baca juga:
OJK Malang Rilis Kinerja Keuangan Per Mei, NPL Naik
“Banyak yang sudah akses layanan keuangan tapi enggak kenal risikonya. Nah, ini hati-hati, adik-adik yang baru kuliah nih. Gadget itu kegiatannya bisa macam-macam. Kalau misalnya punya pinjaman, suka pakai Paylater, pakai pinjol, itu kalau sudah punya niat, ‘Saya mau pakai pinjol dan tidak saya bayar,’ itu datanya akan muncul terus sampai kapanpun, tidak bisa terhapus. Itu ada di data SLIK, kalau dulu kenalnya dengan BI Checking,” kata Farid.
Ia menegaskan pinjol resmi yang terdaftar di OJK hanya ada 94 perusahaan. Sementara di luar sana yang tidak terdaftar jumlahnya jauh lebih banyak, mencapai ribuan.
“Ciri-ciri khasnya saja saya kasih tahu. Kalau yang terdaftar di OJK itu hanya punya tiga syarat: CAMILAN. Jadi hanya meminta tiga hal yaitu Camera, Microphone, sama Location. Kalau kita mau akses ke pinjol, diminta di luar itu, berarti ilegal,” jelasnya.
Ia mewanti-wanti para mahasiswa agar tidak terjebak dalam gaya hidup konsumeris yang berujung pada pinjaman-pinjaman yang tidak perlu. Farid berpesan agar jangan menghabiskan uang hanya demi terlihat kaya. Sebaliknya, mulailah menabung sebelum belajar investasi.
“Investasilah sejak muda, tapi jangan investasi karena ikut-ikutan. Di era digital jangan mudah percaya dan jangan asal klik. Selalu ingat 2L, Legal dan Logic,” pesan Farid.





