Blues Spirit

Blues Spirit Sesi 83: Perangnya di Teluk, Amburadulnya di Sini

Akhirnya, kita tidak boleh diam terus. Tidak boleh terus-terusan diam. Karena hak kita, kedaulatan kita, kepentingan kita sebagai rakyat ~walaupun nun di sini~ Malang Raya ikut terganggu, ikut menanggung, kena deritanya.

Kita tidak boleh lupa, bahwa demokrasi yang kita pilih, mewajibkan kita, rakyat ~melalui mekanismenya~ harus terlibat. Dan harus, atau tegasnya harusnya dilibatkan.

Apalagi untuk keputusan-keputusan yang sensitif, menyangkut sikap bangsa. Sikap, yang sejak negeri dan bangsa ini diproklamirkan, sikap politik luar negerinya jelas, bebas aktif. Non blok sejak negeri ini berdiri.

Sekarang, bagaimana kita?

Memasuki tahun ke-81 kemerdekaan ini, yang negaranya dipimpin oleh presiden ini, bagaiamna kita?!

Sampai di sini, sampean semua bisa menjawab. Ada kata kunci untuk menalar.

BOP (Board of Peace), Rp17 triliun, kecele tarif, kecele respon rakyat, takut di-Venezuela-kan, takut HAM lama, lalu pertanyaan ini, katanya untuk peace (damai), kok perang?

Katanya untuk kemanusiaan, kok mengirim misil untuk membunuh manusia? Merusak hak kedaulatan, menghancurkan.

Kita, arek Malang, arek mana saja, wong ndi ae, pasti punya penilaian dan rasa batin terhadap jatuhnya misil berhulu ledak eksplosif di Timur Tengah itu.

Bom meledak, asap membumbung, manusia dan nyawa apapun di sekitarnya, tewas. Aset dan pembangunan berantakan. Hati nurani kita bagaimana?

Kita dipaksa menjadi begini, kalau bom jatuh di Israel dan di negara-negara kroni Amerika dan Israel,
kita harus bilang apa?

Demikian juga kalau jatuh di Iran. Apa perasaan sampean semua ikut hancur? Perangnya di sana, amburadulnya di sini.

Perang, selalu memaksa hati kita untuk berpihak. Kalau bukan kepada salah satunya, adalah pada kepentingan sendiri.

Kepentingan kita di Malang Raya adalah kalau tanker minyak untuk pasokan kebutuhan harian kita terus dicegat di Selat Hormuz, siapa yang menjamin minyak kita tidak langka? Lebih lagi, tidak menjadi mahal?

Siapa yang menjamin, tidak ada ikutan naiknya harga-harga kebutuhan lain, di tengah ekonomi lokal yang sungguh sedang tidak baik-baik saja ini?

PHK terus bertambah. Tapi peluang kerja seperti menunggu besi bisa mengambang. Pajak, jenisnya juga terus bertambah. Tapi nilai uang kita terus melemah. Sudah berkisar Rp17 ribu per dollar. Apa nunggu sampai Rp20 ribu?

Belum lagi bagaimana keamanan pergi Umrah, bahkan mungkin Haji, karena perang ini sangat mungkin berkepanjangan? Haji adalah kebutuhan wajib sebagian besar warga.

Kita tidak bisa diam. Pikiran pengelola negara harus sama dengan pikiran kita. Pengelola negara, penguasa, pemerintah, yang sesungguhnya “hanyalah tenaga” outsourching 5 tahunan, tidak boleh membelokkan arah konstitusi. Tidak boleh suka-suka sendiri. Harus sesuai keinginan rakyat.

Imawan Mashuri

Imawan Mashuri adalah seorang pengusaha media asal Malang yang dikenal sebagai pendiri Arema Media Group, JTV, dan sejumlah media lainnya di Indonesia. Dengan pengalaman panjang di industri media, ia membangun ekosistem informasi yang berfokus pada konten lokal berkualitas. City Guide 911 FM merupakan salah satu wujud komitmennya dalam menghadirkan berita dan informasi yang relevan bagi masyarakat Malang Raya dan sekitarnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Visual Radio

x