Ekonomi dan Bisnis

BBM Naik, Margin Industri Kuliner Kota Batu Makin Tipis

Salah satu layanan restoran di Kota Batu. (Foto: Asrur Rodzi)
Salah satu layanan restoran di Kota Batu. (Foto: Asrur Rodzi)

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) semakin menekan industri kuliner di Kota Batu. Dampak terbesar dirasakan pada sektor Food and Beverage (FnB), menyusul meningkatnya biaya bahan baku, logistik, hingga operasional usaha.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi mengatakan kenaikan BBM memicu efek berantai terhadap biaya produksi makanan dan minuman. Selain ongkos distribusi yang meningkat, pelaku usaha juga menghadapi kenaikan harga bahan baku, biaya energi, serta upah tenaga kerja.

“Komponen biaya operasional FnB saat ini menjadi yang paling besar. Kalau dulu modal produksi satu porsi makanan sekitar Rp15 ribu, sekarang bisa mencapai Rp17.500 karena kenaikan biaya energi dan bahan baku,” ujarnya.

Menurut Sujud, kondisi tersebut membuat ruang keuntungan pelaku usaha semakin sempit. Sebab, harga jual kepada konsumen juga harus memperhitungkan kewajiban pembayaran Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) sebesar 10 persen serta service charge untuk karyawan.

Akibatnya, nilai yang diterima pengelola restoran jauh lebih kecil dibandingkan harga yang dibayarkan pelanggan. Sementara itu, biaya operasional terus mengalami peningkatan.

Misalnya, dari harga jual makanan sebesar Rp30 ribu, pengusaha masih harus menanggung berbagai komponen biaya mulai dari pajak, pelayanan, bahan baku, hingga biaya tenaga kerja dan operasional. Kondisi tersebut membuat margin keuntungan semakin tipis.

Tekanan serupa juga dirasakan unit usaha kuliner milik Taman Rekreasi Selecta, Kota Batu. Dari tiga restoran yang dikelola yakni Restoran Asri, Bahagia, dan Cantik, Sujud menyebut Restoran Cantik hingga pertengahan tahun masih belum mencatatkan kinerja positif.

Tingginya biaya operasional yang bertepatan dengan kewajiban pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.

PHRI Kota Batu berharap kondisi ekonomi dan biaya operasional dapat kembali stabil sehingga pelaku usaha memiliki ruang yang lebih luas untuk menjaga kualitas layanan tanpa harus membebani konsumen dengan kenaikan harga yang terlalu tinggi.

Editor: Intan Refa

Asrur Rodzi

Jurnalis City Guide FM yang berfokus pada liputan berita seputar Kota Batu, mencakup isu pemerintahan, pariwisata, peristiwa, dan perkembangan terkini di wilayah Kota Batu dan sekitarnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Visual Radio

x