Peristiwa dan Hukum

22 Tahun Meninggalnya Munir, Sang Kakak Ungkap Sisi Lain Adiknya

Peringatan 22 tahun wafatnya pejuang HAM, Munir Said Thalib. (Foto: Asrur Rodzi)
Peringatan 22 tahun wafatnya pejuang HAM, Munir Said Thalib. (Foto: Asrur Rodzi)

CITY GUIDE FM, KOTA BATU — Puluhan pemuda berpakaian hitam mendatangi peringatan 22 tahun meninggalnya Munir Said Thalib digelar di TPU Sisir, Kota Batu pada Senin sore (7/9/2026). Mereka hadir untuk menziarahi dan menabur bunga untuk mengenang pejuang hak asasi manusia asal Kota Batu itu.

Munir dibunuh pada 7 September 2004 dalam penerbangan Garuda Indonesia menuju Belanda untuk melanjutkan pendidikan. Dalam penyelidikan terkuak bahwa ia meninggal akibat keracunan zat arsenik.

Sebelum meninggal, Munir merupakan aktivis yang aktif menangani berbagai persoalan HAM. Ia mendirikan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) serta pendampingan korban dan keluarga korban berbagai kasus pelanggaran HAM.

Baca juga:

Suciwati: Gelar Pahlawan untuk Marsinah Adalah Penyuapan

Di balik kiprahnya sebagai aktivis, keluarga mengenangnya sebagai sosok yang memiliki keberanian dan kepedulian terhadap orang lain sejak kecil. Itulah yang disampaikan kakak kandung Munir, Anisa binti Said Thalib yang hadir dalam ziarah tersebut.

“Waktu kecil Munir itu rambutnya merah, jadi sering diolok-olok atau di-bully anak-anak di jalan. Dulu orang-orang masih rasialis melihat keturunan Arab. Tapi Munir tidak pernah takut. Dia berani bergelut untuk membela diri dan adiknya yang masih kecil,” kenang Anisa.

Keberanian itu terus terbawa hingga Munir beranjak remaja dan dewasa. Anisa juga bercerita, Munir pernah membela seorang temannya yang berasal dari Papua ketika mendapat perlakuan rasialis.

Saat menjadi mahasiswa dan aktif di organisasi kemahasiswaan, Munir juga pernah membantu membela temannya yang menghadapi persoalan rumah yang terancam direbut secara paksa.

“Keluarga kami rata-rata berdagang, tapi Munir memilih jalannya sendiri. Ia memilih jalan yang benar untuk melindungi yang lemah. Di TV dia memang terlihat sangat serius, tapi aslinya di rumah dia itu sangat humoris, lucu, dan suka guyon,” tambah Anisa.

Dalam peringatan 22 tahun kepergian Munir, Anisa berpesan kepada generasi muda dan para aktivis agar tidak berhenti menyuarakan persoalan masyarakat.

“Insyaallah kita jangan pernah mundur, apalagi di masa pemerintahan sekarang. Anak-anak muda jangan pernah surut, karena rakyat sekarang sedang susah, ekonomi susah, segalanya susah. Jika ada yang terus menyuarakan kebenaran, itu akan sedikit mengurangi beban masyarakat. Tetaplah berjuang semampunya, sekuat tenaga,” pungkas Anisa.

Editor: Intan Refa

Asrur Rodzi

Jurnalis City Guide FM yang berfokus pada liputan berita seputar Kota Batu, mencakup isu pemerintahan, pariwisata, peristiwa, dan perkembangan terkini di wilayah Kota Batu dan sekitarnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Visual Radio

x