Tradisi Ziarah Kubur di TPU Samaan, Berkah bagi Jasa Bersih Makam

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Beberapa hari menuju bulan Ramadan, ratusan warga memadati Tempat Pemakaman Umum (TPU) Samaan untuk melaksanakan tradisi ziarah kubur. Tradisi yang telah mengakar kuat di masyarakat ini menjadi bentuk doa dan penghormatan kepada keluarga yang telah meninggal dunia.
Dari pantauan di lokasi, warga tampak membersihkan makam, menabur bunga kemudian memanjatkan doa. Tradisi ini menjadi momen tahunan khususnya masyarakat Jawa yang mengenal istilah unggahan poso atau menyambut puasa dengan berziarah.
Eva yang tinggal di Kecamatan Sukun mengatakan bahwa ziarah kubur sudah menjadi kebiasaan turun-temurun dalam keluarganya.
“Kalau dari keluarga sendiri, itu sudah pasti. Mau puasa begini, hari raya, bahkan malam Jumat pun biasanya kami ke makam. Sudah dari dulu diajarkan nenek, memang tradisinya seperti itu,” ujarnya saat di area pemakaman, Senin (16/2/2026).
Anggota keluarga besar Eva memang dimakamkan di TPU Samaan. Mulai dari orang tua hingga nenek dan kerabat lainnya.
Begitu pula dengan Maria. Warga Kota Malang yang kini berdomisili di Surabaya ini menyebut, ziarah menjelang Ramadan sebagai bagian penting dalam keluarganya.
“Kalau orang Jawa bilang unggahan poso. Jadi kita nyekar ke almarhum yang sudah mendahului kita. Tradisi ini selalu dilakukan, tidak pernah terlewat,” kata Maria.
Ia menambahkan, ziarah bukan hanya sekadar tradisi, melainkan wujud penghormatan kepada orang tua dan leluhur. Baginya, perbedaan latar belakang agama dalam keluarga tidak menjadi penghalang untuk tetap berziarah.
“Tujuannya mengirim doa. Saya tidak memandang agama apa pun. Yang penting ke sini untuk mendoakan orang tua yang sudah mendahului kita,” tuturnya.
Penyedia jasa bersih makam ketiban rezeki

Tradisi ziarah kubur ini membawa berkah tersendiri bagi para penyedia jasa bersih makam di TPU Samaan. Banyak yang mengaku pendapatan mereka meningkat signifikan. Ali (23) salah satunya.
“Kalau hari biasa paling tiga atau empat makam saja, itu pun tidak tentu. Sekarang lumayan ramai,” kata Ali.
Ia mengaku bisa bersih-bersih hingga 20 makam dalam sehari. Untuk jasa bersih makam ini, Ali tidak mematok tarif khusus. Tergantung kerelaan dari peziarah saja.
“Ikhlasnya saja. Alhamdulillah cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Sama halnya dengan Samsuri (35), yang sudah empat tahun terakhir rutin membantu membersihkan makam menjelang Ramadan. Ia datang untuk membantu mertuanya yang lebih dahulu bekerja di area pemakaman tersebut. Sehari menjelang Ramadan, rata-rata ia dapat membersihkan hingga 20-an makam.
“Kalau hari raya bisa sampai 30 makam, kadang lebih. Tapi karena banyak teman juga, hasilnya dibagi-bagi,” katanya.
Sementara itu, salah seorang peziarah sekaligus pengguna jasa bersih makam asal Yogyakarta Ilmi Huda, memilih menggunakan jasa ini karena lebih praktis.
“Supaya tidak ribet. Mereka punya alat, dan bayarnya juga sukarela, tidak memberatkan,” kata dia.
Ilmi sendiri datang ke Malang untuk menjalankan tradisi nyadran (istilah di Jogja), yakni ziarah makam keluarga menjelang Ramadan.
Meski tidak semua keluarga menjalankan tradisi ini, bagi sebagian masyarakat Malang, ziarah kubur menjelang Ramadan merupakan bagian tak terpisahkan dari persiapan spiritual menyambut bulan suci.
Reporter: Heri Prasetyo
Editor: Intan Refa




