Idjen Talk

Perlukah Ring Road untuk Kota Malang?

Idjen Talk edisi 20 Mei 2026,"Perlukah Ring Road untuk Kota Malang?"
Idjen Talk edisi 20 Mei 2026,”Perlukah Ring Road untuk Kota Malang?”

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Isu ring road di kawasan selatan Kota Malang kembali berhembus. Seiring semakin meningkatnya konsentrasi arus kendaraan di berbagai ruas jalan utama. Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang Widjaja Saleh Putra menjelaskan bahwa kondisi lalu lintas di Kota Malang sudah sangat jenuh.

Pihaknya mencatat ada sekitar 2,1 juta perjalanan kendaraan berlalu lalang di Kota Malang per hari. Dari total itu, sebanyak 1,3 juta perjalanan adalah angkutan orang dan 44.925 perjalanan kendaraan angkutan barang.

“Ini menunjukkan bahwa perjalanannya ini adalah mix traffic. Artinya, kondisi lalu lintas ini heterogen, ada perjalanan barang, perjalanan orang menjadi satu di tengah kota. Sebagaimana kita ketahui ada di Jalan Gatot Subroto, Jalan Raden Intan sampai Gadang,” kata Widjaja.

Maka, dalam hal ini ring road atau jalur koridor wilayah timur di sekitar Jalan Ki Ageng Gribig sampai Jalan Mayjen Sungkono derajat kejenuhannya mencapai 0,80-0,87 (rasionya D yang artinya arus mendekati tidak stabil), dengan kecepatan tempuhnya hanya 20km/jam.

Volume arusnya 109,8 per jam dan lebar jalan efektifnya hanya 3,8 meter. Lalu jalur ring road barat, titik jenuhnya ada di Jalan Soekarno Hatta yang mencapai skala 0,9 (rasionya E artinya arus tidak stabil). Kondisi serupa juga terjadi di Jalan MT Haryono.

Anggota Komisi C DPRD Kota Malang Arief Wahyudi melihat ring road menjadi solusi mengatasi kemacetan di jam-jam sibuk. Sebab, selama ini pihak terkait hanya melakukan rekayasa lalu lintas.

Saat pemerintah kota melebarkan area persimpangan di Kelurahan Buring, ternyata mampu memecah kemacetan yang cukup signifikan. Ini artinya, Kota Malang perlu menambah ruas jalan.

“Nah, ring road itu untuk solusi jangka panjangnya. Itu mestinya urusannya ke pemerintah pusat maupun provinsi. Kita tinggal memetakan, menganalisa lalu kita sampaikan usulan tersebut,” kata Arief.

Apalagi saat ini, pihaknya tengah merumuskan peraturan daerah (perda) tentang lalu lintas angkutan jalan. Maka Arief mengatakan masukan dari masyarakat sangat dibutuhkan dalam mempertimbangkan mana solusi yang paling masuk akal memecah kemacetan.

Tapi kembali lagi, Arief mengatakan bahwa wacana ini perlu analisa mendalam, sebab kebutuhan anggaran juga sangat besar. Apalagi, belakangan isu Tol Malang Kepanjen kabarnya juga akan dilanjutkan bahkan sampai ke Blitar.

Sehingga muncul pertanyaan, apakah Kota Malang tetap membutuhkan ring road? Dalam hal ini, Pakar Transportasi ITN Dr Ir Nusa Sebayang MT memandang konsep ring road adalah mengalihkan kendaraan yang tidak berkepentingan dengan kota ke pinggiran. Sehingga, jalan tengah kota dapat lebih lancar.

“Jadi saya sangat setuju sekali rencana ini. Saya kira ini sudah tepat waktunya untuk segera,” kata Nusa.

Tapi tentu ada antisipasi agar titik kemacetan bukannya terpecah tapi malah pindah ke titik lain. Menurut Nusa, jika ring road ini terealisasi maka perlu memikirkan kemungkinan adanya titik yang berkembang di jalur yang baru.

“Jika nanti rencana ring road dibangun, harus ada pembatasan akses masuk. Jadi ring road itu jadi jalan dengan kecepatan tinggi,” sarannya.

Simak selengkapnya di sini:

Intan Refa

Editor City Guide 911 FM dengan pengalaman mengelola konten berita seputar Malang Raya. Bertanggung jawab atas akurasi, kelengkapan, dan kualitas pemberitaan di cityguide911fm.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button

Visual Radio

x