Rupiah Melemah, Bagaimana Menjaga Stabilitas Ekonomi?

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Masyarakat dan pelaku usaha semakin khawatir melihat nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang terus melemah. Bahkan nilainya telah mencapai rekor terlemah dalam sejarah fiskal Indonesia yang menembus Rp17.600.
Apakah betul kondisi sekarang memang sedemikian mengkhawatirkan? Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Negeri Malang Prof Dr Imam Mukhlis SE MSi melihat situasi ini tidak terlepas dari turbulensi perekonomian global. Bukan hanya Indonesia, tapi banyak negara yang juga mengalami tekanan.
Memang tren penurunan nilai Rupiah ini sudah tampak sejak Januari 2026 lalu. Soal kurs mata uang, Indonesia menganut sistem kurs mengambang terkendali. Artinya, harga mata uang ditentukan oleh mekanisme pasar.
“Namun pada batas tertentu, otoritas moneter (dalam hal ini Bank Indonesia) bisa mengintervensi untuk menjaga stabilitas kurs mata uang,” kata Prof Imam.
Prof Imam mengatakan yang harus diperhatikan terhadap pergerakan kurs rupiah ini adalah imported inflation. Artinya, terjadinya inflasi (harga barang dan jasa) dalam negeri akibat faktor luar negeri yaitu perubahan nilai mata uang.
“Namun, hingga saat ini kita melihat bahwa fondasi ekonomi kita masih kuat. Ini ditandai dari stabilitas harga kita. Inflasi kita masih rendah ya, di bulan April itu data BPS-nya sekitar 0,13. Itu menandakan inflasi kita masih terjaga dan fundamental ekonomi kita bagus,” lanjutnya.
Kendati terkendali, ternyata ada anomali. Meskipun fondasi ekonomi Indonesia bagus, tapi nilai tukar rupiah malah melemah. Dalam hal ini, kata Prof Imam ada faktor eksternal yaitu karena capital outflow atau larinya modal keluar dari Indonesia.
“Ini kan masalah kepercayaan pasar terhadap ekonomi kita. Kalau ekonomi pasar percaya pada kita, maka tentunya mereka akan kembali berinvestasi sehingga ada capital inflow dan memperbanyak devisa,” sambung Prof Imam.
Menurutnya, kondisi ini tampaknya masih akan terus melemah secara halus. Intinya, selama ekonomi global belum stabil, maka ekonomi Indonesia juga akan terus berfluktuasi.
Bagaimana dampak jangka pendek dan jangka panjangnya? Ini semua tergantung pada ekspektasi rasional pelaku pasar. Jika tidak ada mitigasi dari pemerintah, dalam jangka pendek, akan terjadi kenaikan harga pada barang yang ada konten impornya.
Lama kelamaan, dalam jangka waktu menengah dan panjang, kenaikan akan terjadi secara makro (imported inflation). Menurut Prof Imam, untuk saat ini para pelaku usaha masih menghitung-hitung seperti apa tren pergerakan nilai rupiah ke depannya.
“Tapi memang secara retorik, dampak jangka panjang pergerakan kurs ini nanti mengarah pada inflasi yang bergerak naik. Kemudian capital outflow juga semakin meningkat dan merembet ke sektor-sektor lain. Seperti perdagangan, jasa, transportasi, logistik dan properti,” terang Prof Imam.
Oleh karena itu, pemerintah harus berhati-hati menjaga daya beli, insentif bagi investor serta literasi kepada masyarakat. Agar mereka memfilter informasi yang bermunculan di media sosial.
Apa yang bisa dilakukan? Financial Educator Amang Rifai menjelaskan yang bisa dilakukan oleh masyarakat di lingkup terkecil yaitu keluarga, adalah menerapkan sistem SIP. Saving, Investment and Protection (SIP) di tengah ketidakpastian ini.
“Kita juga jangan terlalu panik, sehingga kita menarik apa yang sudah kita investasikan. Padahal ada beberapa sektor yang masih tetap aman,” kata Amang.
Menurutnya, stabilitas ekonomi nasional bermula dari stabilitas ekonomi keluarga. Artinya, harus ada proteksi. Mulai dari mengenali needs dan wants yang mencegah belanja secara impulsif atau yang tidak perlu.
Penuhi dulu kantong-kantong yang penting. Salah satunya dana darurat yang aman untuk 3-6 bulan ke depan. Perlu juga menata pola hidup dengan menahan jajan-jajan di luar.
“Bekali juga anak-anak, bagaimana mereka melihat keuangan keluarga. Keterbukaan antara pasangan dan anak bisa memperkuat ekonomi keluarga. Yang jelas kita harus percaya bahwa pemerintah tidak menutup mata dan mengupayakan fiskalnya terjaga,” pungkasnya. (WL)
Simak di sini:




