
CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Sebanyak 350 dokter anestesi sub-spesialis manajemen nyeri dari seluruh penjuru Indonesia berkumpul di Kota Batu, untuk menghadiri Kongres ISAMP 2026. Pertemuan yang berlangsung pada 16-18 April ini menjadi momentum bagi organisasi profesi tersebut untuk menyelaraskan standar pelayanan di tengah Undang-Undang Kesehatan yang baru.
Ketua Pelaksana Kegiatan dr Ristiawan Muji Laksono memaparkan bahwa saat ini jumlah dokter anestesi di Indonesia telah mencapai 3 ribu orang. Namun yang memiliki spesialisasi khusus di bidang penanganan nyeri baru sekitar 350 orang.
Jumlah ini cukup menantang untuk mulai melakukan standarisasi layanan di seluruh fasilitas kesehatan. Maka, fokus utama kongres kali ini adalah memastikan setiap dokter memiliki manual prosedur yang seragam. Sehingga kualitas layanan yang diterima pasien di berbagai daerah tetap setara.
Baca juga:
Pengurus MPI Malang Raya Siap Beri Pelayanan Holistik Pasien
Dalam konteks regulasi, Ristiawan mengingatkan para dokter untuk mematuhi empat pilar profesionalitas yang tercantum dalam UU Kesehatan terbaru. Pilar tersebut meliputi penguasaan kompetensi, kepemilikan lisensi yang sah, ketaatan pada kode etik profesi untuk tidak membahayakan pasien, serta kepatuhan terhadap tanggung jawab hukum.
“Bahwa sebagai seorang dokter, kita harus mengedepankan aspek profesionalisme,” tegas Ristiawan.
Ristiawan juga menyoroti peran historis dokter anestesi sebagai perintis ilmu tata laksana nyeri di dunia. Selama ini beban kerja dokter anestesi lebih banyak terserap di kamar operasi karena keterbatasan personel.
Kini dengan jumlah sub-spesialis yang makin bertambah, ISAMP berkomitmen untuk mengembalikan peran tersebut ke tengah masyarakat. Penanganan nyeri di luar kamar operasi menjadi prioritas baru yang akan terus dikembangkan secara profesional dan transparan.
“Sekarang ketika jumlahnya makin banyak dan kita kemudian berusaha mengembalikan bahwa ada tugas ini yang sebenarnya harus kita kerjakan,” imbuh dokter yang aktif mengajar di FK Universitas Brawijaya tersebut.
Kongres yang berlangsung selama tiga hari ini berisi tujuh workshop intensif dan simposium nasional. Beberapa pemangku kebijakan akan hadir termasuk Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono. Pertemuan ini harapannya mampu menghasilkan rekomendasi strategis bagi masa depan profesi anestesiologi di tanah air.
Editor: Intan Refa



