Radang Tenggorokan Bisa Berujung Penyakit Jantung Rematik?

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Jangan anggap sepele infeksi atau radang tenggorokan pada anak. Sebab, kondisi ini bisa berdampak serius apabila terjadi berulang dan tidak mendapatkan penanganan tuntas. Bahkan bisa memicu Penyakit Jantung Rematik (PJR) yang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada katup jantung.
Perwakilan Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Pusat dr BRM Ario Soeryo Kuncoro menjelaskan bahwa Penyakit Jantung Rematik di Indonesia masih bersifat endemis. Ia tidak menular seperti COVID-19, tapi penyebabnya adalah respons imun tubuh setelah terjadi infeksi kuman di tenggorokan.
“Infeksi ini memicu keluarnya antibodi. Namun, antibodi tersebut salah mengenali katup jantung sebagai kuman karena bentuknya mirip atau mimikri. Akibatnya, katup jantung ikut diserang dan mengalami peradangan. Lama-kelamaan katup menjadi menebal, kaku, hingga rusak,” jelas kata dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Jantung Harapan Kita itu.
Menurutnya, kondisi ini menjadi perhatian serius. Karena gejala kerusakan katup jantung sering kali baru muncul saat penderita memasuki usia dewasa muda yakni sekitar 20-30 tahun.
Pada fase tersebut, kerusakan jantung umumnya sudah cukup berat sehingga penderita kesulitan beraktivitas dan tidak jarang memerlukan operasi penggantian katup jantung.
“Ini menjadi beban bagi negara karena menyerang usia produktif. Karena itu, pencegahannya harus mulai sejak usia anak-anak, terutama tingkat sekolah dasar, melalui skrining dini. Jika deteksi lebih cepat, maka tata laksana pencegahan bisa diberikan agar tidak berkembang menjadi kasus berat di masa depan,” tegasnya.
YJI berikan pelatihan kepada nakes untuk gunakan USG jantung portabel

Dinas Kesehatan Kota Batu memberikan pelatihan kepada dokter di seluruh puskesmas Kota Batu agar mampu mengoperasikan alat USG jantung portabel. Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Batu dr Yuni Astuti menjelaskan bahwa petugas sebelumnya lebih banyak mendeteksi gangguan jantung dari gejala fisik dan metode tanya jawab (anamnesa). Seperti mudah lelah atau mengalami sesak napas saat beraktivitas.
“Kalau anak disuruh lari lalu ngos-ngosan, itu gejala yang sering terjadi. Tapi biasanya kalau sudah terdeteksi lewat keluhan fisik seperti itu, tahap kerusakannya sudah lanjut. Karena itu, kehadiran alat USG jantung sangat perlu di lini pertama,” ujar dr Yuni.
Beruntung, Malang Raya mendapatkan hibah berupa 2 unit alat USG jantung portabel itu dari Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Pusat. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr BRM Ario Soeryo Kuncoro mengatakan alat tersebut memiliki bentuk ringkas dan mudah digunakan untuk kegiatan skrining di lapangan.
“Alat USG jantung portabel ini ukurannya cukup kecil dan bisa langsung tersambung ke perangkat tablet maupun telepon pintar atau HP. Jadi sangat memudahkan mobilitas untuk skrining ke sekolah-sekolah,” jelas dr Ario.
Nantinya, apabila terdapat indikasi atau tanda-tanda kelainan katup jantung pada siswa saat pemeriksaan, pasien akan segera mendapatkan obat pencegahan. Kalau perlu merujuknya ke fasilitas kesehatan lanjutan untuk penanganan lebih lanjut.
Harapannya, teknologi ini mampu mempercepat deteksi dini penyakit jantung pada anak sehingga mencegah risiko kerusakan berat sejak awal.
Editor: Intan Refa




