Potensi Wisata Songgoriti yang Terganjal Status Aset

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Ribuan warga yang memadati Kirab Banteng 1 Suro Empu Supo ke-18 di Songgoriti, Senin (22/6/2026), menjadi bukti bahwa kawasan ini masih memiliki daya tarik. Selain terkenal dengan sumber air panas dan situs sejarahnya, Songgoriti juga menyimpan potensi wisata budaya yang terus berkembang.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Ony Ardianto menilai Songgoriti memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang menjadi salah satu destinasi unggulan di Kota Batu. Menurutnya, kombinasi antara kekayaan budaya, sejarah, dan kondisi alam menjadi modal kuat bagi pengembangan kawasan tersebut.
“Iya, kalau lihat potensinya memang sangat luar biasa. Tapi kembali lagi ini kan kita merujuknya pada peraturan yang ada. Kalau memang tahapannya itu bisa kembali lagi ke Kota Batu ya alhamdulillah tentu akan menjadi salah satu favorit destinasi wisata tambahan untuk di Kota Batu,” ujar Ony.
Kendala utamanya adalah pengembangan kawasan Songgoriti ini, sejumlah asetnya hingga kini belum sepenuhnya berada di bawah kewenangan Pemerintah Kota Batu. Status pengelolaan sejumlah aset wisata di kawasan Songgoriti hingga kini masih menjadi bagian dari aset Pemerintah Kabupaten Malang.
Padahal secara administratif kawasan tersebut berada di wilayah Kota Batu sejak pemekaran daerah pada tahun 2001. Persoalan kelola aset ini merupakan warisan sejarah sejak Kota Batu resmi memisahkan diri dari Kabupaten Malang dan menjadi kota otonom pada tahun itu.
Berdasarkan undang-undang pemekaran daerah, wilayah geografis Songgoriti sepenuhnya masuk ke dalam administrasi Kota Batu. Namun, beberapa aset wisata strategis, seperti hotel dan pemandian air panas alam, secara kepemilikan modal masih tercatat milik Pemkab Malang di bawah naungan BUMD PT Jasa Yasa.
Selama bertahun-tahun, proses diplomasi, koordinasi, hingga mediasi yang melibatkan lembaga negara seperti KPK terus berjalan guna mencari titik temu. Di tengah dinamika tersebut, Pemerintah Kota Batu berkomitmen mengembangkan sektor pariwisata melalui penguatan atraksi budaya yang telah tumbuh di masyarakat.
Salah satunya melalui dukungan terhadap kesenian bantengan yang kini telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kota Batu. Menurut Ony, tingginya animo masyarakat terhadap Kirab Banteng 1 Suro menjadi indikator bahwa wisata budaya memiliki peluang besar untuk dikembangkan.
“Kalau melihat antusiasme dari masyarakat yang sangat luar biasa ini tentu sesuatu hal yang memang enggak salah. Sampai dengan saat ini bantengan menjadi salah satu warisan budaya tak benda di Kota Batu. Kami juga menerima banyak pertanyaan dari masyarakat mengenai kapan pelaksanaan bantengan ini. Artinya, ini memang event yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat,” katanya.
Dengan dukungan kekayaan budaya, keberadaan Situs Candi Songgoriti, sumber air panas, serta berbagai agenda tradisi yang rutin digelar, kawasan Songgoriti memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata terpadu.
Editor: Intan Refa




