Air Mancur Alun-alun Merdeka Malang Dibatasi, Ini Alasannya

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Air mancur di Alun-alun Kota Malang tidak lagi memancar sepanjang hari. Plh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang mengatakan memang membatasi operasional air mancur hanya pada malam hari. Tepatnya mulai pukul 18.00 hingga 21.00 WIB.
Kata Raymond, pembatasan itu diterapkan setelah muncul sejumlah persoalan ketika air mancur memancar mulai pagi hingga malam. Salah satunya adalah perilaku pengunjung yang menggunakan air mancur sebagai tempat mandi.
Bahkan parahnya ada yang buang air kecil di area tersebut. Akibatnya, air yang berada di dalam penampungan menjadi kotor. Karena pada dasarnya air mancur itu adalah air yang ditampung lalu dipompa kembali. Akhirnya, muncul keluhan dari sejumlah anak yang mengaku gatal-gatal setelah bermain di air mancur.
“Banyak anak-anak yang mandi. Ada yang buang air kecil di sana, sehingga airnya turun ke penampungan dan disemburkan kembali,” ujar Raymond, Senin (10/8/2026).
Raymond menjelaskan, sistem penggantian air mancur itu setiap tiga hari atau satu minggu sekali. Sedangkan sumber airnya berasal dari PDAM. Pihaknya tidak penggunaan sumber air tanah karena memang air bawah tanah tidak boleh untuk membuat air mancur.
“Kalau terus-menerus itu lumayan, listriknya juga mengambil air dari air bawah tanah. Sedangkan kita tidak boleh menggunakan air bawah tanah. Jadi yang kita gunakan adalah air PDAM,” terangnya.
Masalah semakin kompleks setelah mesin pompa air mancur sebelumnya sempat mengalami rusak akibat terendam banjir akibat hujan lebat pada Mei lalu. Mesin tersebut akhirnya diperbaiki dengan biaya yang tidak sedikit.
Karena itu, DLH memilih membatasi waktu operasional air mancur untuk mengurangi risiko kerusakan sekaligus menjaga kondisi air. Meski terbatas, pengunjung tetap tidak boleh mandi atau bermain di dalam air mancur. Pihaknya telah memasang tulisan larangan mandi di lokasi tersebut. Ia mengingatkan fungsi air mancur ini adalah elemen estetika ruang publik, untuk mendukung suasana malam menjadi lebih indah.
Editor: Intan Refa





