Polresta Malang Kota Tangkap Pelaku Kebakaran TPA Supit Urang

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Polresta Malang Kota menangkap warga Desa Jedong, Kecamatan Wagir berinisial K (71), terduga pelaku atas kebakaran yang menghanguskan 15 hektar area Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang. Kasatreskrim Kompol Septiawan Adi mengatakan saat ini K masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
“Tersangka sudah kami amankan, dan saat ini masih kami periksa lebih lanjut,” ujarnya, Selasa (27/10/2026).
Berdasarkan hasil penyidikan sementara, K diduga membuang puntung rokok ke area rumpun bambu atau barongan, ketika membersihkan lahan sekaligus memanen pisang. Lokasi tersebut berada di lahan pertanian di sisi selatan, di luar kawasan TPA Supit Urang.
“Jadi, dia membuang puntung rokok ke arah barongan kemudian ditinggal. Ketika kembali, ternyata apinya sudah merambat dan membesar,” ungkap Septiawan.
Baca juga:
Penanganan TPA Supit Urang Andalkan Water Bombing dan OMC
Penyidik menduga bara api dari area rumpun bambu kemudian terbawa angin hingga menyambar gunungan sampah di dalam TPA. Kondisi kering saat musim kemarau, serta tiupan angin mempercepat perambatan api hingga kebakaran terus meluas.
Untuk mengungkap penyebab dan rangkaian kejadian secara lebih mendalam, pihaknya turut menggandeng tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Timur. Penyidik juga telah memeriksa dan meminta keterangan sedikitnya 15 saksi yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Atas dugaan perbuatannya, K dijerat Pasal 308 ayat (1) subsider Pasal 311 KUHP tentang perbuatan yang mengakibatkan kebakaran.
Sementara itu, upaya pemadaman kebakaran TPA Supit Urang masih berlangsung. Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang Heru Mulyono mengatakan operasi helikopter water bombing akan berlangsung hingga 31 Oktober 2026, terutama di lokasi yang masih mengeluarkan asap.
Baca juga:
Pemadaman TPA Supit Urang, Petugas Waspadai Hembusan Angin dan Hotspot
Operasi udara mulai sekitar pukul 09.00 WIB dalam beberapa sortie atau penerbangan. Helikopter harus berhenti sementara untuk mengisi bahan bakar avtur sebelum kembali melakukan penyiraman dari udara.
“Kalau melihat apinya, sejak Sabtu sudah turun banyak. Sebenarnya secara kebakaran sudah bisa kita kendalikan. Yang masih banyak itu asapnya,” jelas Heru.
Berbeda dengan kebakaran bangunan, kebakaran sampah memiliki karakteristik yang lebih kompleks. Bara dapat bertahan di bagian dalam timbunan meskipun api di permukaan tidak lagi terlihat. Gas metana yang terkandung dalam timbunan sampah juga berpotensi memicu kembali nyala api apabila bertemu material yang mudah terbakar.
Petugas juga menggunakan drone untuk memantau lokasi dengan kepulan asap paling tebal, sebagai acuan menentukan titik prioritas penanganan. Selain mempercepat pemadaman, Pemkot Malang membagikan 5 ribu masker dan obat-obatan untuk mengantisipasi dampak asap terhadap kesehatan masyarakat dan relawan.
Editor: Intan Refa





