Pameran “Tanah Air”, Ajak Pengunjung Kembali Rasakan Resonansi Tanah

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Lantai Galeri Raos yang biasanya bersih dan rapi kini tertutup hamparan tanah. Sementara belasan pohon yang terbuat dari kardus bekas berdiri di berbagai sudut ruangan. Pencahayaan temaram yang memancar dari bawah instalasi pohon semakin memperkuat atmosfer reflektif dalam pameran instalasi bertajuk “Tanah Air”.
Pameran yang digagas Yayasan Pondok Seni Batu bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu ini telah dibuka sejak 20 Juni 2026 hingga 27 Juli 2026. Melalui karya seni instalasi ruang, para seniman mengajak masyarakat merenungkan kondisi lingkungan yang semakin mengkhawatirkan.
Salah satu perupa Pondok Seni Batu Abdul Rohim menjelaskan bahwa pameran tersebut lahir dari keprihatinan terhadap berbagai persoalan lingkungan yang terjadi. Baik di Kota Batu maupun secara lebih luas.
“Ini kerja sama dengan DLH Kota Batu dalam rangka memperingati isu lingkungan hidup. Jadi kita mengeksplorasi keprihatinan terhadap lingkungan melalui karya-karya instalasi berbentuk pohon yang terbuat dari sampah kardus. Itu menjadi simbol keprihatinan kita terhadap kondisi lingkungan saat ini,” ujarnya.
Berbagai persoalan ekologis seperti berkurangnya tutupan vegetasi, alih fungsi lahan, hingga menurunnya kualitas sumber daya alam menjadi latar belakang lahirnya karya tersebut. Melalui pendekatan seni, isu-isu tersebut hadir dalam bentuk pengalaman empiris.
Salah satu konsep yang menarik perhatian adalah kewajiban melepas alas kaki sebelum memasuki area pameran. Pengunjung akan berjalan langsung di atas tanah yang menutupi lantai galeri sebagai bagian dari pengalaman artistik.
Untuk mewujudkan konsep tersebut, proses pengerjaan instalasi memakan waktu sekitar dua minggu. Tim seniman mendatangkan dua dump truk tanah asli untuk menutupi seluruh area galeri.
“Kenapa alas kaki harus dilepas, karena kita menggunakan media tanah sungguhan. Kalau dihubungkan dengan lingkungan, kami ingin pengunjung benar-benar merasakan kembali resonansi tanah yang sebenarnya,” jelas Abdul Rohim.
Menurutnya, respons pengunjung terhadap konsep tersebut cukup beragam. Namun banyak yang mengaku tersentuh karena merasakan kembali pengalaman yang kini mulai jarang di kehidupan sehari-hari.
“Banyak pengunjung yang ternyata rindu menginjak tanah secara langsung. Ada yang mengatakan sudah lama tidak merasakan tanah sungguhan. Ternyata pengalaman sederhana itu justru membuat pesan yang ingin kami sampaikan menjadi lebih mengena,” tambahnya.
Selain menghadirkan hamparan tanah dan instalasi pohon dari kardus bekas, pameran ini juga menampilkan genangan air di beberapa titik ruangan. Elemen tersebut menjadi simbol sumber kehidupan yang saat ini menghadapi berbagai ancaman akibat perubahan lingkungan.
Melalui pameran “Tanah Air”, sebanyak 15 perupa yang terlibat berupaya menghadirkan ruang kontemplasi bagi masyarakat. Pengunjung tidak hanya melihat karya seni. Tetapi juga merasakan secara langsung tekstur tanah, kelembapan ruang, serta merenungkan hubungan manusia dengan alam yang perlahan mulai terabaikan.
Editor: Intan Refa




