Kawan Animalia

Mitos Vaksin Hewan yang Masih Dipercaya Masyarakat

Kawan Animalia edisi 8 Agustus 2026, "Mitos Vaksin Hewan yang Masih Dipercaya Masyarakat"
Kawan Animalia edisi 8 Agustus 2026, “Mitos Vaksin Hewan yang Masih Dipercaya Masyarakat”

CITY GUIDE FM, ANIMALIA – Ada beberapa mitos seputar vaksin hewan atau anabul yang masih dipercaya oleh pet owner. Misalnya seperti kucing liar tidak perlu vaksin karena daya tahan tubuhnya lebih kuat, atau hewan indoor tidak perlu vaksin. Drh Ranti Aisuka Rinjani meluruskan beberapa mitos tersebut.

Vaksin membuat hewan jadi sakit atau demam

Faktanya, efek samping berat yang muncul setelah vaksinasi bisa terhindarkan asalkan anabul dalam kondisi benar-benar sehat sebelum vaksin. Kandungan vaksin sendiri adalah virus yang dilemahkan, sehingga reaksi seperti demam ringan adalah hal yang wajar. Karena hanya terjadi sementara, bukan penyakit yang berkepanjangan.

Hewan indoor tidak perlu vaksin

Ukuran virus yang sangat kecil (mikroskopis) akan dapat mudah terbawa dari luar. Bisa menempel di baju, alas kaki atau barang belanjaan dari pemilik rumah. Maka, hewan indoor pun rawan tertular virus yang tidak sengaja terbawa dari luar rumah.

Simak di sini:

Hewan liar seperti stray cat tidak perlu vaksin

Ada anggapan hewan liar tidak memerlukan vaksin karena imunitas tubuh mereka lebih kuat. Drh Ranti mengatakan mitos ini salah besar. Semua hewan, baik liar maupun indoor tetap membutuhkan kekebalan lewat vaksinasi.

Vaksinasi cukup satu kali seumur hidup

Padahal, kadar antibodi atau titer dalam tubuh anabul akan terus menurun seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, perlu ada pengulangan (booster) yang umumnya adalah tiga bulan sekali untuk tahap awal. Lalu lanjut dengan vaksin booster setahun sekali.

Baca juga:

Anabul Juga Butuh Merdeka

Menurut drh Ranti, munculnya mitos-mitos ini biasanya berasal dari pengalaman pet owner yang kemudian diceritakan kepada pet owner yang lain. Misalnya, pengalaman buruk anabulnya mati usai vaksin, lantas pet owner berbagi pengalamannya ini kepada orang lain sehingga muncul anggapan bahwa vaksin itu berbahaya untuk anabul.

“Jadi bisa saya katakan untuk vaksin ini memang ada efek sampingnya. Tapi dengan pemeriksaan yang menyeluruh sebenarnya efek samping itu bisa kita hindari. Jadi vaksin ini bukan sesuatu yang semenakutkan itu gitu. Dengan prosedur yang benar vaksinasi ini akan memberikan dampak positif yang lebih banyak dari pada dampak negatifnya,” kata drh Ranti.

Ia mengingatkan hewan atau anabul yang tidak mendapatkan vaksin berisiko tinggi tertular virus mematikan. Bahkan bisa menjadi zoonosis (menularkan pada manusia). Contoh nyatanya adalah rabies yang dapat menular dari hewan ke manusia dengan menyerang sistem saraf pusat yang dapat berakibat kematian.

Intan Refa

Editor City Guide 911 FM dengan pengalaman mengelola konten berita seputar Malang Raya. Bertanggung jawab atas akurasi, kelengkapan, dan kualitas pemberitaan di cityguide911fm.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Visual Radio

x