Kota Batu Darurat Vandalisme?

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Sangat disayangkan sksi vandalisme yang dilaporkan muncul di sejumlah fasilitas umum atau milik privat, terjadi di Kota Wisata Batu. Salah seorang pendengar City Guide turut menjadi korban vandalisme di rumahnya yang membuatnya harus merogoh kantong lebih dalam untuk membersihkan.
Kepala Dinas Sosial Kota Batu Lilik Fariha menyebut vandalisme bukan lagi kegiatan yang hanya iseng atau kenakalan biasa. Tapi ada faktor yang melatarbelakangi.
“Bisa jadi itu merupakan sebuah gejala persoalan lain yang lebih mendalam permasalahan sosial yang mungkin dihadapi oleh para pelakunya,” kata Lilik.
Simak di sini:
Untuk saat ini, pihaknya masih belum menerima pelimpahan pelaku vandalisme dari Satpol PP. Kata Lilik, jika pelakunya tertangkap, pihaknya akan memberikan pendampingan psikososial, konseling serta mengarahkan para pelaku ke kegiatan-kegiatan positif. Misalnya seperti belajar airbrush, desain grafis, seni mural hingga kewirausahaan.
Sekda Kota Batu Alfi Nurhidayat juga sebelumnya sempat melontarkan ide untuk menyediakan ruang ekspresi di dinding Stadion Gelora Brantas. Sementara itu, Pegiat Street Art Akhmad Kholili menjelaskan bahwa ada perbedaan besar antara street art atau grafiti dengan vandalisme.
“Grafiti itu seharusnya memperindah, menyampaikan pesan sosial dan estetika. Kemudian targetnya juga berbeda. Vandalisme biasanya menyasar tembok-tembok bersih, cagar budaya atau fasilitas vital. Eksekusinya juga jelas, kalau vandalisme dilakukan sembunyi-sembunyi di malam hari. Sedangkan grafiti lebih terencana, butuh waktu membuat sketsa sekitar 2-3 hari,” terangnya.
Baca juga:
Stadion Brantas Disiapkan Jadi Zona Mural Atasi Vandalisme
Karya grafiti juga bisa menambah nilai estetika visual suatu tempat, sedangkan vandalisme justru menjadi polusi visual. Menurut Kholili, orang-orang yang gemar corat-coret tidak pada tempatnya itu biasanya karena sedang melampiaskan tekanan hidup. Tapi ada juga yang menandai atau klaim teritorial sebuah kelompok lewat coretan khas.
Kholili menyarankan pemerintah untuk menyediakan tembok-tembok mangkrak sebagai media ekspresi bebas. Solusi lain adalah memetakan wilayah yang boleh digunakan untuk mural, area terlarang untuk mural atau grafiti dan area yang perlu kurasi sebelum mengaplikasikan mural.
Sementara itu, Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang Moch Aan Sugiharto menganalisis penyebab umum aksi vandalisme masih terus ada. Mulai dari rasa ketidakpuasan terhadap sesuatu. Kata Aan, biasanya pelaku vandalisme akan menyebutkan apa yang membuatnya tidak puas di dalam coretannya.
Baca juga:
Duh, Anjungan Air Siap Minum Kota Malang Jadi Sasaran Vandalisme
“Misalnya waktu saya studi di Surabaya. Waktu itu marak aksi pungli yang dilakukan oleh polisi lalu lintas. Banyak yang di-stop kemudian ditilang, ternyata oknumnya itu minta uang damai. Kemudian banyak muncul aksi vandalisme yang bertuliskan damai itu indah dicoret, dengan damai itu Rp50 ribu atau damai itu Rp100 ribu. Jadi itu adalah ekspresi ketidakpuasannya,” terang Aan.
Aan membandingkannya dengan Kota Batu dan ia mendapati coretan-coretan vandalisme itu tidak ada ekspresi ketidakpuasan yang terlihat. Sehingga menurutnya, vandalisme di Kota Batu bukan karena rasa ketidakpuasan. Selanjutnya faktor ruang ekspresi yang masih kurang.
“Sekda Kota Batu kan juga sudah menyediakan ruang berekspresi. Nah, ini nanti tinggal kita lihat apakah ruang berekspresi ini mudah dijangkau oleh masyarakat,” lanjutnya.
Selain itu, ada juga anggapan bahwa vandalisme itu dibolehkan sehingga sekalipun telah dihapus, mereka akan mencari celah lagi untuk sekadar corat-coret. Faktor lainnya adalah iseng atau pencarian jati diri.
Untuk mengatasi fenomena ini, pihaknya menyarankan agar pemerintah berkolaborasi dengan perguruan tinggi, maupun komunitas street art untuk memberikan edukasi kepada para pelajar. Tujuannya adalah membuat mereka paham batas antara seni dengan pengrusakan properti.




