Idjen Talk

Membaca Fenomena Erupsi Beruntun di Indonesia

Idjen Talk edisi 8 September 2026, "Membaca Fenomena Erupsi Beruntun di Indonesia"
Idjen Talk edisi 8 September 2026, “Membaca Fenomena Erupsi Beruntun di Indonesia”

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Dalam dua pekan terakhir ini, mayarakat dibuat khawatir dengan erupsi beruntun sejumlah gunung berapi di Indonesia yang muncul dalam waktu yang nyaris berdekatan. Mulai dari Gunung Anak Krakatau, Gunung Ili Lewotolok, Gunung Semeru hingga Gunung Ibu.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Rita Susilawati menjelaskan erupsi yang terjadi belakangan ini tidak serta merta menjadi alarm merah. Kata Rita, fenomena erupsi beruntun itu wajar terjadi karena Indonesia berada di cincin api Pasifik dengan 127 gunung api.

“Sepanjang tahun 2026 kami mencatat, contoh Gunung Semeru di Jawa Timur sudah terjadi 20.326 kali letusan dan 55 kali awan panas. Gunung Anak Krakatau itu sudah 243 letusan. Jadi memang dengan banyaknya itu otomatis di satu hari mungkin ada satu gunung bersamaan dengan empat gunung yang lainnya. Dan itu memang tercatat di data yang kami miliki. Jadi sekali lagi itu merupakan dinamika yang biasa terjadi kita berada di negara dengan banyak gunung api aktif,” terang Rita.

Simak di sini:

Untuk membaca status aktivitas gunung api, pihaknya memiliki parameter seperti tampilan visual, aktivitas kegempaan, deformasi atau tekanan di dalam tubuh gunung api, keluarnya gas serta ancamannya ke masyarakat sekitar. Maka, sebaiknya penduduk yang tinggal di sekitar gunung api rutin mengecek status aktivitas gunung dan rekomendasi jarak aman.

Kepala Pusat Studi Kebumian dan Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya Prof Drs Ir Adi Susilo MSi PhD menjelaskan bahwa erupsi beruntun ini bukan karena kantong magma raksasa di bawah tanah. Ia menegaskan bahwa setiap gunung itu memiliki dapur magma, jalur dan tingkat aktivitasnya masing-masing.

“Jadi kalau kita berpikiran, ini kok barengan. Apakah di bawah itu ada koneksi? Kalau ke arah mantel (mantel bumi) iya. Tetapi sebetulnya masing-masing gunung itu mempunyai kantong magma sendiri-sendiri. Dan kebetulan pada saat yang hampir bersamaan tekanan yang ada di bawah di kantong magma itu cukup besar. Sehingga mengeluarkan erupsi yang hampir bersamaan,” jelasnya.

Baca juga:

BNPB Sebut Pola Erupsi Gunung Semeru Menguntungkan

Menurutnya, dinamika geologis ini masih wajar. Namun, Prof Adi menyebut erupsi beruntun ini bisa jadi akibat aktivitas tektonik (tumbukan lempeng) yang mempercepat erupsi gunung-gunung api yang memang sudah siap erupsi. Ia menegaskan, pergerakan lempeng tektonik tidak akan memicu erupsi jika kantong magmanya belum siap.

Namun, Prof Adi melihat erupsi yang terjadi ini relatif kecil atau belum level maksimum, kecuali Gunung Anak Krakatau. Kondisi ini menurutnya justru lebih menguntungkan.

“Tenaganya, energinya tidak ditahan di bawah, tapi dikeluarkan sedikit-sedikit. Seperti Gunung Semeru sebetulnya tiap lima menitan itu erupsi, yang kita namakan erupsi strombolian ya. Keluar asap, keluar abu vulkanik dan juga keluar pasir yang menumpuk di lereng-lerengnya itu. Dan yang lainnya pun juga begitu. Kecuali kalau letusan cukup besar yang nanti membawa awan panas, itu sebuah fenomena yang patut kita perhatikan,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Timur Satriyo Nurseno menambahkan kendala yang muncul dalam upaya mitigasi bencana erupsi ini adalah persoalan kewenangan. Gunung-gunung api di Indonesia, yang berwenang adalah pemerintah pusat.

“Tapi paling tidak kami berkolaborasi dan berkomitmen dengan seluruh BPBD kabupaten/kota se-Jawa Timur untuk paling tidak bisa menyelamatkan masyarakat-masyarakat yang ada di sekitar gunung. Itu yang menjadi prioritas kami,” kata Satriyo.

Selain itu, tantangan lainnya datang dari penambang pasir yang langsung kembali ke zona rawan setelah erupsi mereda. Alasan kuatnya adalah faktor ekonomi, karena ada potensi tambang pasir di aliran lahar Gunung Semeru. Namun, sebagai langkah mitigasi, pihaknya bekerja sama dengan pemerintah daerah telah memasang sistem pantauan di wilayah hulu untuk memberi peringatan ke wilayah hilir bila terjadi erupsi.

Intan Refa

Editor City Guide 911 FM dengan pengalaman mengelola konten berita seputar Malang Raya. Bertanggung jawab atas akurasi, kelengkapan, dan kualitas pemberitaan di cityguide911fm.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Visual Radio

x