
CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Semula saat Porprov IX Jatim 2025 lalu, cabor hapkido Kota Malang sempat kekurangan pemain. Alhasil, mau tidak mau pelatih hapkido Kota Malang mengajak anak didiknya dari cabor lain untuk ikut bergabung. Salah satunya adalah Krisna Adi Saputra yang sebelumnya adalah seorang pesilat.
Sejak saat itu, demi mempersiapkan diri mewakili Kota Malang, ia berlatih keras agar kemampuan tekniknya bisa memadai. Bagi pemuda 23 tahun ini, tantangan terbesar justru muncul dari pekerjaannya.
“Tantangan terbesar saya adalah waktu sih. Soalnya kan juga disambi sama kerja. Jadi agak sulit bagi waktu antara latihan sama kerja. Dulu saya sempet berpikir untuk berhenti Latihan, karena kecapekan. Tapi yang membuat saya tetap bertahan itu support dari teman-teman orang tua dan pelatih,” kata Krisna.
Sebagai atlet yang bermain di kategori nakbop atau high jump, keterampilan yang paling penting adalah seni lompatan dan jatuhan. Namun ada beberapa teknik lain yang juga harus dikuasai seperti kuncian dan pukulan.
Bagi krisna, perlu konsistensi dan disiplin latihan untuk meningkatkan performa. Tak terkecuali juga agar terpilih menjadi perwakilan daerah dalam ajang kompetisi bergengsi tingkat regional maupun nasional.
Pada pertandingan perdananya di Porprov IX, Krisna berhasil menyumbang satu medali emas pada nomor nakbop. Tapi, prestasinya bukan itu saja.
“Alhamdulillah selama saya ada di cabor hapkido ini, sudah mendapat 3 medali. Pertama medali emas di Porprov 2025 kemarin. Kedua, medali perak (long jump) dan perunggu (high jump) saya raih di Kejurnas Hapkido 2025 di Surabaya kemarin. Kebetulan Kejurnas itu saya ikut dua nomor yaitu high jump dan long jump,” lanjutnya.
Ada hal berharga yang Krisna pelajari selama mendalami hapkido ini. Bahwa menjadi atlet itu bukan hanya sekedar soal menang dan kalah. Tapi juga melatih diri untuk mengendalikan ego, disiplin dan optimis menghadapi tantangan selanjutnya.
“Saya juga merasa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya,” ungkap Krisna.
Ini menunjukkan bahwa prestasi lahir dari ketekunan dan keberanian untuk bertahan. Di arena pertandingan, Krisna tidak hanya menemukan medali, tetapi juga menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri. (adv)
Editor: Intan Refa




