Kecelakaan Bromo Kembali Terulang, Apa yang Salah?

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Beranjak dari kecelakaan jeep wisata Gunung Bromo belum lama ini, Polres Pasuruan mencatat angka kecelakaan di destinasi ini meningkat dalam 6 bulan terakhir. Selisihnya dari tahun sebelumnya memang tidak terlalu signifikan, 2-3 kejadian lebih banyak.
Kaurmin Lantas Polres Pasuruan Ipda Arie Setyo Nugroho menjelaskan sejumlah kecelakaan yang terjadi sebulan terakhir. Misalnya, kecelakaan yang melibatkan WNA asal Korea Selatan yang mengendarai motor matic dan tidak menguasai medan. Alhasil, kendaraan tersebut mengalami rem blong dan terjun ke jurang.
“Kalau yang terakhir jeep wisata sudah ada informasi yang kami terima. Kemarin itu kebetulan pas liburan, banyak sekali kendaraan jeep dari Malang. Jadi dia itu sudah perjalanan dari jam 2 pagi, mulai dari Tumpang melewati loket Jemplang Malang itu dan mengarah ke penanjakan,” terang Arie.
Berdasarkan keterangan saksi, jeep yang terlibat kecelakaan itu memang sudah bermasalah. Terbukti sopir sempat melakukan perbaikan dan mengira rem-nya sudah berfungsi kembali. Tapi ternyata saat turunan tajam, terjadilah rem blong dan menabrak tebing.
Kata Arie, kasus kecelakaan seperti ini seringnya adalah karena faktor teknis dan human error. Sigma Safety Drive and Ride Coach Arsyad Mustaqim melihat human error penyebab kecelakaan jeep wisata biasanya karena over confident.
“Jadi biasanya kalau kondisi (medan) ekstrem seperti ini yang paling banyak itu human error memang. Ya mohon maaf, kadang orang-orang itu over confident dengan kondisi jalan. ‘Aku sudah biasa lewat sini, aku sudah paham daerah sini, saya sudah hafal’, dan sebagainya,” kata Arsyad.
Senada dengan Arsyad, Perwakilan Komunitas Jeep Eko Yuli Irawan menyebut kecelakaan ini murni lebih banyak faktor human error dari pengemudinya. Padahal, jika pengemudi mematuhi standar operasional maka kejadian serupa tidak akan terjadi lagi.
“Misal di Bromo kalau mau menghindari rem blong itu, 4X4 Low Gear-nya itu difungsikan. Itu sangat membantu, tapi pelan tidak bisa kencang. Akan tetapi saya jamin selamat walaupun se-blong blongnya rem masih bisa mengatasi engine brake-nya,” terang Eko.
Di sisi lain, Eko juga melihat banyak jeep wisata yang jumlahnya ribuan unit tidak mendapatkan pengawasan dari pemerintah. Maka perlu ada integrasi pengawasan antara kepolisian dengan pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang masih terkendala teknis dan koordinasi.
Selain itu juga perlu adanya fasilitas teknis di setiap pintu masuk kawasan seperti bengkel darurat dan petugas, seperti yang ada di jalan tol. Termasuk yang tak kalah penting adalah penegakan hukum berupa blacklist bagi pengemudi yang abai terhadap SOP. (WL)
Simak juga di sini:




