Meet the Leaders

Rektor Unira, Sosok Arema Dobel yang Lekat dengan Dunia Santri

Meet the Leader bersama Rektor UNIRA Malang KH Imron Rosyadi Hamid SE MSi PhD (Gus Imron)
Meet the Leader bersama Rektor UNIRA Malang KH Imron Rosyadi Hamid SE MSi PhD (Gus Imron)

CITY GUIDE FM – Terlahir di keluarga multikultural agamis membuat Rektor Universitas Raden Rahmat (Unira) Malang KH Imron Rosyadi telah lekat dengan pesantren sejak muda. Ayahnya santri dari Madura, sedangkan ibunya santri dari Kota Malang. Sehingga, ia menyebut dirinya sendiri sebagai Arema Dobel, Arek Madura dan Arek Malang.

“Masa kecil saya memang banyak dihabiskan di dunia pesantren, ngaji gitu ya. Kebetulan saya dulu sekolahnya di sekolah negeri mulai di sekolah dasar di Pagentan Singosari, kemudian di SMP Negeri 1 Singosari lanjut ke SMA Negeri Lawang. Jadi walaupun kami sekolah di sekolah negeri, tapi komunitas saya di komunitas santri waktu itu,” ungkapnya.

Semasa kecil, Imron sering berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti penugasan sang ayah yang bekerja di departemen pertanian waktu itu. Kadang di Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu. Ada masanya ketika bersekolah tidak jauh dari Bandara Abdulrachman Saleh, Imron kecil sering melihat tentara angkatan udara sedang berlatih dengan pesawat Herculesnya.

Simak selengkapnya di sini:

Mata Imron menatap takjub kegagahan burung besi itu dan berharap dapat menaikinya suatu saat nanti. Mimpi itu terwujud, walaupun bukan dengan Hercules. Ia pernah terbang ke Amerika setelah mendapatkan beasiswa riset dan terbang ke China untuk melanjutkan studi doktoral.

Kegagalan

Sebagai orang yang menakhkodai Unira Malang, jejak pendidikannya tak selalu mulus. Minatnya pada bidang kimia, membuatnya bermimpi dapat melanjutkan pendidikan tinggi di ITB, selepas lulus dari SMA Negeri di Kecamatan Lawang.

Ternyata, persaingan yang sangat ketat memaksanya merelakan mimpi itu. Hampir dua tahun lamanya Gus Imron merenung. Tidak ingin meratap lebih lama, akhirnya ia memutuskan aktif di organisasi-organisasi seperti Gerakan Pemuda (GP) Anshor.

Baca juga:

Bangun Mental Pengabdi, UNIRA Malang Gelar Seminar Pemberdayaan Psikologis

“Ketika era Orde Baru saya punya pengalaman pernah dipanggil kejaksaan hanya gara-gara membela petani waktu itu. Jadi waktu itu kita bikin riset tentang kenapa pupuk itu langka. Kita bikin riset ke beberapa daerah dan memang terjadi penimbunan. Karena gara-gara pertemuan itu terjadi gejolak petani. Ada pembakaran KUD di beberapa daerah yang dianggap pemicunya adalah teman-teman NGO sehingga kemudian dipanggil kejaksaan. Tapi kami tidak sampai diproses lebih jauh, sekedar untuk diklarifikasi saja,” cerita Gus Im.

Ia menyimpulkan, kalau saja lolos di ITB mungkin ia tidak berkesempatan berkiprah di masyarakat dan memahami persoalan di akar rumput.

Keteguhan prinsip

Gus Imron pernah mundur dari jabatannya sebagai tangan kanan seorang sekretaris jenderal di tubuh PBNU. Ada satu kebijakan yang menurutnya tidak tepat pada situasi kala itu, karena menyangkut hajat hidup orang banyak.

“Maka saya menyerahkan jabatan itu ke ke ketua umum. Saya pamit baik-baik dan saya mendoakan supaya kebijakan ini tetap dijalankan. Tapi saya tidak dalam posisi di situ,” tegasnya.

Sebagai orang yang sudah 35 tahun berkiprah di tubuh NU, dalam prinsip keorganisasian, merit sistem itu adalah faktor penting. Maksudnya, seseorang harus merangkak dari bawah sebelum menduduki posisi puncak.

“Saya mengikuti struktur organisasi itu mulai dari yang paling bawah. Mulai dari ranting Ansor Wonojati, kemudian jadi Wakil Ketua Ansor Singosari naik ke Sekretaris Ansor Kabupaten Malang. Naik ke Sekretaris Ansor Jawa Timur kemudian ke Satkornas. Saya juga sebelum di PBNU itu menjadi Rais Syuriah PCI NU Tiongkok dua periode. Jadi mulai yang lokal sampai yang internasional saya pernah itu,” papar Gus Im.

Teladan dari orang tua

Dalam hidupnya, orang tua dan Gus Dur adalah sosok yang paling berpengaruh dan menjadi sumber teladan baginya. Gus Imron bercerita bahwa ayahnya adalah sosok yang taat beribadah dan disiplin.

“Bapak saya ini orang yang saya tahu dalam situasi selelah apapun, seletih apapun, tidak pernah lepas dari salat malam. Sampai ketika beliau wafat itu juga dalam keadaan salat waktu itu. Jadi ini satu hal bahwa orang itu tidak boleh hanya bersandar pada ikhtiar-ikhtiar yang sifatnya fisik, tapi juga kekuatan spiritual itu juga penting,” kata pria berkacamata itu.

Meskipun kehidupan Imron kecil waktu itu terbilang berkecukupan, kedua orang tuanya sangat mengutamakan pendidikan. Sepulang dari sekolah, Imron akan lanjut belajar mengaji dan mendalami agama Islam.

“Karena saya ini hidup di tengah lingkungan Nahdatul Ulama dan Pesantren, saya memiliki figur seperti Gus Dur yang menanamkan nilai-nilai kesederhanaan, kepedulian kepada orang kecil, pada orang-orang yang teraniaya. Itu juga menjadi salah satu inspirator hidup saya sampai sekarang,” lanjutnya.

Gus Imron masih ingat ajaran sang ibu, tidak perlulah menunjukkan kemewahan sekalipun mampu. Semula ia tidak begitu memahami maksudnya. Akan tetapi, ia menyadari bahwa dengan berperilaku sederhana akan lebih inklusif dan bisa diterima siapapun.

Ada satu prinsip penting yang ia teladani bahwa, “Man arodaddunya faaihi bil ilmi waman aral akhirah faai ilmi waman arahuma”. Maksudnya, siapapun yang menginginkan “kehidupan dunia” maka dia harus jalankan itu dengan ilmu. Begitu juga jika ingin selamat di akhirat harus dengan ilmu.

“Dan kalau kita ingin sukses di keduanya itu juga harus dengan ilmu. Nah, baik orang tua saya maupun Gus Dur itu adalah orang yang mengajarkan tentang hakikat itu, baik itu ilmu agama maupun ilmu sosial,” kata Gus Imron.

Intan Refa

Editor City Guide 911 FM dengan pengalaman mengelola konten berita seputar Malang Raya. Bertanggung jawab atas akurasi, kelengkapan, dan kualitas pemberitaan di cityguide911fm.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Visual Radio

x