Dampak Wisata Imbas Kebakaran Bromo

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Kebakaran kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus meluas. Akibatnya, aktivitas pariwisata terutama akses dari Kabupaten Malang ditutup total sejak 8 Agustus 2026. Untuk mencegah wisatawan masuk, pemerintah mendirikan pos pengamanan di Rest Area Glubuk Klakah, Coban Trisula, Jemplang dan Ngadas.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang Firmando Hasiholan Matondang menyebut telah memberikan imbauan kepada komunitas Jeep Bromo untuk tidak mengangkut wisatawan. Khususnya yang dari pintu Jemplang.
“Kalau untuk ke Bromo Hillside masih memungkinkan. Tapi untuk turun ke lautan pasir sudah tidak memungkinkan,” ungkapnya.
Bencana kebakaran ini, cukup berdampak pada ekosistem pariwisata. Kata Firmando, tahun lalu kunjungan ke Bromo via Kabupaten Malang mencapai 272 ribu wisatawan, di mana 9.950 di antaranya adalah wisatawan asing.
Baca juga:
70 Jeep Wisata Bromo Jalani Ramp Check
Kata Firmando, memang terjadi penurunan kunjungan wisatawan. Tapi kebakaran Bromo bukan faktor satu-satunya. Bulan Juli kemarin menjadi puncak kunjungan wisata yang bertepatan dengan liburan sekolah. Lalu bulan Agustus trennya memang turun karena masyarakat disibukkan dengan berbagai kegiatan. Salah satunya peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Barulah pada Oktober, tren kunjungan kembali naik dan puncaknya pada Desember-Januari 2027. Akibat kebakaran ini, Firmando menawarkan sejumlah destinasi alternatif. Seperti Coban Sewu, Gunung Arjuno, Gunung Kawi dan beragam wisata di Malang Selatan.
Di sisi lain, Tourismologist Universitas Brawijaya Dr A Faidhlan Rahman SE Par MSc CHE melihat dampak kebakaran ini tidak hanya mengurangi pendapatan pelaku pariwisata. Lebih jauh, citra Gunung Bromo sebagai destinasi wisata Internasional menimbulkan kekhawatiran.
Karena itu, penyampaian informasi seputar kondisi Bromo haruslah jelas, konsisten dan sesuai realita. Jangan sampai wisatawan menerima informasi yang berbeda-beda.
“Jangan berbicara kunjungan terlebih dahulu. Karena keselamatan wisatawan, masyarakat dan pelaku usaha di sana jauh lebih penting. Yang sekarang perlu antisipasi adalah recovery, bagaimana memadamkan api di Bromo itu PR pertama,” jelas Faid.
Setelah memastikan kawasan benar-benar aman, lalu memulihkan fasilitas yang rusak. Kemudian memulihkan vegetasi baru membuka kawasan untuk wisatawan. Ia menekankan pembukaan wisata tidak bisa asal api padam, wisata besok buka.
Perlu ada readiness assessment yang meliputi keamanan kawasan, kelayakan jalur wisata, kualitas udara, kesiapan fasilitas dan petugas serta pengendalian risiko kebakaran. Faid menekankan bahwa keindahan wisata alam juga bergantung pada kemampuan manusia menjaga lanskap itu. (WL)
Simak di sini:





