Januari-Mei 2026, 925 Warga Kota Malang Positif TBC

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Ada 27 warga terdeteksi positif TBC, setelah skrining lewat mobile X-Ray gencar dilaksanakan sejak April-Mei 2026 di 28 kelurahan. Sementara secara keseluruhan, mulai Januari hingga Mei 2026, tercatat ada 925 kasus positif TBC di Kota Malang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Malang Meifta Eti Winindar mengatakan skrining ini menyasar kelompok masyarakat berisiko tinggi. Termasuk keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC.
“Hari ini kami berada di Kelurahan Sukun untuk melaksanakan deteksi dini terhadap pasien yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC serta kelompok rentan lainnya,” kata Meifta, Rabu (3/6/2026).
Sasaran pemeriksaan juga mencakup penderita diabetes melitus, anak usia di atas tiga tahun dengan gizi buruk, hingga kontak erat TBC. Dalam sehari, pihaknya menargetkan 200 warga menjalani pemeriksaan rontgen dada (thoraks).
Sedangkan hasil skrining bisa terlihat pada hari yang sama. Jika terindikasi TBC maka tindaklanjutnya adalah pemeriksaan lanjutan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) di puskesmas.
“Setelah screening, pasien yang terduga akan menjalani pemeriksaan dahak menggunakan TCM untuk memastikan diagnosis. Jika positif, pengobatan langsung dilakukan sesuai standar,” ujarnya.
Program skrining bergerak ini akan berlangsung hingga akhir September 2026 ke seluruh kelurahan di Kota Malang secara bertahap. Meifta menyebut beberapa wilayah dengan jumlah sasaran tinggi akan mendapat kunjungan lebih dari satu kali.
Kata Meifta, jumlah kasus TBC di Kota Malang relatif stabil dari tahun ke tahun. Stabilnya angka kasus justru hasil dari masifnya deteksi aktif.
“Kasus tetap ditemukan karena kami aktif melakukan screening. Tidak hanya pasien yang datang ke layanan kesehatan, tetapi kami juga turun langsung mencari kasus di masyarakat,” ujar Meifta.
Ia mencatat, hingga akhir Mei 2026 terdapat 1.433 suspek TBC yang menjalani pemeriksaan lanjutan. Sementara jumlah warga yang telah mengikuti skrining mobile sejak April mencapai 2.936 orang.
Sedangkan kelompok penderitanya mulai balita hingga lansia, dengan dominasi pasien laki-laki. Di sisi lain, angka kematian akibat TBC menunjukkan tren menurun. Sepanjang 2025 tercatat 230 kematian. Sedangkan periode Januari–Mei 2026 tercatat 24 kasus kematian.
Lebih lanjut, Meifta mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala TBC. Seperti batuk lebih dari dua minggu, berat badan turun drastis, keringat malam berlebih, atau memiliki riwayat kontak dengan pasien TBC.
Pada anak-anak, tanda waspada dapat berupa berat badan yang tidak meningkat selama dua bulan berturut-turut. Sementara itu, warga Sukun, Aryo turut menjalani skrining TBC sebagai langkah antisipasi dini di tengah meningkatnya kerentanan penyakit pernapasan akibat cuaca yang tidak menentu.
“Soalnya minimal kita sebagai orang awam soal kesehatan juga harus mengerti kesehatan dari kecil, dari dini. Apalagi dengan musim atau cuaca seperti sekarang, penularan TBC atau mungkin batuk yang lain bisa sangat rentan,” katanya.
Ia memastikan tidak ada anggota keluarga maupun orang terdekat yang pernah terpapar TBC. Menurutnya, skrining ini murni sebagai bentuk kewaspadaan dan inisiatif pribadi.
Editor: Intan Refa




